Sabtu, 18 Desember 2010

Bersyukur Ternyata Susah...

Aku, orang yang penuh konsep negatif akan diriku sendiri, selalu memandang kekurangan yang ada pada diriku.
Merasa frustrasi atas apa yang tidak kumiliki dan ketidaksempurnaan dalam hal yang kumiliki.
Merasa iri dengan keadaan orang lain yang dalam pandanganku merupakan keadaan yang menyenangkan dan ingin ku miliki, penuh keberuntungan dan sepertinya, "waaaw" dalam paradigmaku.
Sedangkan ketika aku memandang diriku, aku merasa kecil, tak berdaya, tak pantas, kurang beruntung, malang, tak memiliki hal berharga apapun yang pantas diappreciate. Semua tentang hal negatif.
Payah banget. Aku tahu, itu buruk, buruk sekali. Tapi... begitulah. Selalu tahu yang baik tapi tidak tahu bagaimana mengaplikasikannya, tidak tahu apa yang harus dilakukan menuju kebaikan itu, dan tak sanggup entah mungkin karena malas atau apa, melakukan hal baik itu.
Sebenarnya ketika orang lain melihatku, mereka mungkin juga akan memiliki pandangan yang sama mengenai pandangan baik terhadap orang lain.
Sayang, aku tak pernah tahu dan sadar kalau aku sebenarnya beruntung, cukup baik, dan cukup hebat, mungkin. Aku rasa aku perlu melihat diriku dari kacamata orang lain. Ya tidak melulu harus melihat sisi positif demi meningkatkan motivasi dan kepercayaan internalku akan diriku, tapi perlu juga melihat kejelekanku di mata mereka sebagai jalan instrospeksi dan perbaikan menuju kebaikan.

Anyway, sebenarnya apa hubungan kacamata orang lain dengan judul post ini? bersyukur?
Bagiku kacamata orang lain bisa membantuku untuk menyadari betapa wajibnya aku harus bersyukur kepada Allah atas semua yang telah aku dapat, aku nikmati, dan aku jalani.
Semuanya adalah yang terbaik menurutNya.
Aku sudah sangat lebih beruntung dan memang wajib menyadari bahwa aku memang beruntung.
Sayangnya, sulit sekali menyadari berbagai hal yang bisa membuatku untuk bersyukur kepadaNya.
Aku selalu merasa kurang dan kecewa atas apa yang aku lakukan dan lakukan.
Aku merasa tidak pernah puas dengan segala hal dalam kehidupanku.
Padahal kalau aku mau melihat ke luar sana, banyak sekali orang-orang yang lebih malang dariku. Yang lebih kesulitan. Tiap hari aku melihat pengemis, penjual tissue, tukang semir sepatu, pengamen, gelandangan, anak kecil yang jadi pemulung, dan sebagainya di stasiun. Betapa nikmatnya hidupku dibanding mereka, bukan?
Aku merasa sangat trenyuh ketika melihat anak kecil yang harus berjualan koran, mereka tidak bersekolah, dan bekerja keras demi menghidupi dirinya dan orang tuanya. Meskipun memang, terkadang ada diantara mereka yang lebih memilih berjualan koran daripada sekolah, karena menurut mereka sekolah itu hanya buang-buang uang, sedangkan ketika mereka berjualan koran mereka dapet uang. Ada juga anak kecil yang bekerja sebagai pemulung. Masih keciiil sekali, dalam pandanganku, sekitar 5-7 tahun waktu itu yang aku lihat. Dia seorang cowok kecil yang perkasa dan hebat bagiku. Tanpa malu, dia membersihkan tempat tunggu kereta dari sampah-sampah plastik, memikul kantong yang sudah cukup banyak berisi "uang", terlihat berat. Sungguh berat perjuangan hidupnya. Aku tidak pernah bahkan sampai kesulitan seperti itu dalam menjalani kehidupan. Orang tuaku masih mampu membiayaiku, meskipun tidak sampai dapat aku sisihkan untuk menuruti nafsu hedonku. Tapi itu lebih baik, daripada aku berbuat dosa dengan bertindak boros.
Lalu aku juga merasa lebih beruntung dari seorang ibu yang hamil tua yang berjualan tissue dan permen keliling tempat tunggu di stasiun. Sungguh, kasihan sekali dia, membawa beban berat dalam keadaan hamil tua.
Terlihat kecapean tapi tak berhenti berjuang mencari pembeli, meskipun terlihat sulit. Tapi mukanya tidak terlihat muram, bahkan masih bisa tersenyum. Salutnya aku. Aku lebih beruntung dari dia. Pokoknya aku lebih beruuntung. Terkadang aku sadar dengan sendirinya setelah melihat fenomena seperti itu, tapi kesadaran itu cepat pula perginya karena luntur oleh berjalannya waktu.
Astaghfirullah....
Sungguh aku telah mendustakan nikmat Allah selama ini.
Ampuni aku Ya Rabb. Tunjukilah jalan terbaikMu.
Amin.

Jumat, 17 Desember 2010

This is my start. I'll try it. Bismillah.

17 Desember 2010 (Jumat)
11.00

Hari ini ada sesuatu yang baru bagiku.
Aku diajak ikut suatu kepanitiaan tingkat kampus dalam skala nasional oleh teman baruku yang satu fakultas denganku. Awalnya agak meragukan, tapi bukankan aku memiliki goal untuk mengikuti banyak atau mungkin hanya beberapa kepanitiaan di tingkat kampus selama aku kuliah nanti. Aku menargetkan minimal aku ikut 8 kali kepanitiaan selama aku berkuliah di kampusku. Ini adalah kesempatan untuk memulai. Jadi aku pikir, kenapa enggak? Coba aja dulu. Pengalaman pertama selalu menjadi trial and error gapapalah Mei. Sempat konflik kecil dan bingung sebenarnya antara aku dan diriku sendiri. Ini kan yang aku ingini? Tapi kenapa aku takut ya untuk mulai melangkah.
Hmmm… Akhirnya aku nekad dan berpikir positif ke depan. Ini saatnya memulai dan mencari pengalaman untuk selanjutnya. Ini saatnya Mei, ayo, ikut aja… ! begitulah si “devil” atau “angel”ku berkata. Aku nggak tau, itu devil atau angel. Lalu akhirnya aku putuskan untuk berkata “iya”. Aku akan mencoba. Aku harus mencoba. Aku harus berani, dan tenang.
Lalu aku ikut temanku itu ke FISIP untuk mengikuti rapat bidang ticketing bersama kabid dan beberapa staf ticketing. Ketika aku dan temanku itu menuju tempat rapat, tiba-tiba hujan deras mengguyur, kami basah, meskipun nggak kuyub. Untungnya aku membawa payung, tapi temanku itu tidak. Akhirnya kami berbagi payung. Yah, karena hujan deras dan angin cukup kencang, hampir saja payungku terbang melayang. Aaargh serasa mendapatkan ketidaksetujuan dari alam. Aku pun sebenarnya ragu, apa keputusanku benar atau salah. Karena ini sungguh awal yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. aku merasa menggigil dan mual setelah berhujan-hujanan ria. Memang aku sedikit tidak enak badan karena terlalu stres memikirkan tugas UAS dan juga materi untuk UAS. Penyakit lamaku kambuh-kepanikan-. Selain efek terhadap kesehatan fisik, stres itu juga memicu tumbuhnya jerawat-jerawat baru dalam wajahku. Ah sial..!
Dan akhirnya aku mengikuti rabid yang dalam situasi nonformal itu. Kabisnya welcome sih, jadi aku langsnung nyaman. Apalagi dia cewek. Dan hanya ada 4 staf, termasuk aku, yang bisa hadir. Ternyata meskipun rabid tetap ada notulensi dan keseriusan dalam membahas tugas dan strategi menjalankan tugas. Waah, setelah mendengarkan sedikit penjelasan dari kabid, aku merasa sedikit takut membayangkan acara besar yang akan diselenggarakan itu. Aku ragu, apa aku bisa menjalankan kewajibanku nanti. Ah sudahlah, aku harus tetap mencoba. Dan akhirnya aku pun harus memutuskan ingin menjadi penanggung jawab dalam hal apa dalam subdivisi ticketing ini. Ah matilah aku. Berat rasanya apalagi aku tidak memiliki kemampuan hubungan interpersonal dengan baik. Akan sangat menyusahkan. Tapi dengan motivasi dari teman yang mengajakku tadi aku akhirnya berani memilih satu –PJ stand-. Tugasnya luamayan ribet dan ga sepele. Tapi itulah tantangan.
Meskipun banyak keraguan dan ketidakyakinan dalam diriku, aku tetap nekad mencoba. Ini adalah awal aku memulai dan aku memang harus memulai. Ini kesempatan. Aku harus maju, nggak boleh mundur. Ada keyakinan dalam diriku aku akan mendapat lumayan pengalaman dan relasi dari luar fakultas. Semoga menyenangkan.
J

Kamis, 16 Desember 2010

Stimulus- Respon

Kamis, 16 Desember 2010
15:38 pm.

Akhirnya setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan nggak pernah ngobrol sama temen se-SMA dulu selama di kampus, hari ini salah satu temenku, yang sama-sama dari daerah mau maen ke fakultasku, nyamperin aku, cuma buat ngobrol hal yang kurang penting.
Seneng juga sih, walaupun sebenernya dia dateng pas waktunya ga begitu tepat karena aku lagi asik dan baruu aja mulai ngebikin mind map psium buat persiapan UAS di perpus. Baru dapet beberapa cabang, tapi, gapapalah demi dia aku ngerelain keasikanku dengan psium.

Obrolan kami sangat-sangat datar awalnya dan memang  nggak penting.
Tapi jujur, buat aku sendiri lumayan dapet insight dalam obrolan ini. Aku juga seneng akhirnya ada yang ngajakin ngobrol. Asik ternyata ketika bisa berbagi unek-unek dengan seseorang. Meskipun nggak dapet penyelesaian seenggaknya buatku dia jadi tau sesuatu yang menggangguku. Bukannya mau buang sampah ke kamu ya, temaan.. Tapi thank you so much.

Dari percakapan kami, aku akhirnya mengatakan sesuatu yang menjadi alasanku menjadi sedikit atau malah memang antisosial, terutama terhadap kelompok kami dari satu daerah.
Aku memang memiliki masalah dengan hubungan interpersonal. Hal mengenai itu seringkali membuat perutku sampai mual, dan otot-ototku tegang, bahkan cairan dalam lambungku pun seolah ikut bergejolak. Sakit. Fisik dan perasaan.
Aku adalah tipe orang yang masih berkemampuan untuk menerima stimulus saja, melakukan respon terhadap stimulus. Aku bukan tipe orang yang cakap menciptakan suatu stimulus terlebih dahulu. Aku memang pasif. Aku takut dan khawatir ketika berusaha menjadi aktif. Penuh tantangan.

Yang aku maksudkan stimulus respon disini mengacu pada hubungan interpersonal yang ada dalam bagian hidupku.
Stimulus adalah sesuatu yang bisa membuatku terpancing untuk ikut terlibat dan menjadi aktif dalam interaksi sosial. Misalnya, sapaan terlbeih dahulu dari seseorang, kepedulian seseorang terhadapku, ajakan seseorang, tawaran seseorang, senyum seseorang, dan masih banyak lagi.
Sedangkan respon adalah sikap yang aku lakukan untuk menanggapi stimulus itu. Misalnya, membalas sapaan, senyuman, menolak atau menerima ajakan atau tawaran, dan lain lain.

Buruk ya sepertinya?
Tapi itulah aku saat ini. Aku belum berani keluar dari comfort zone ku. Menakutkan sekali. Bukannya aku sepenuhnya pasif, sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai sifatku yang lebih menyukai kepasifan itu, karena menyulitkan diriku dan orang lain.
Aku pernah mencoba berkali-kali untuk menciptakan stimulus terlebih dahulu dalam interaksi sosial yang melibatkanku. Misalnya dengan menyapa terlebih dahulu, melempar senyuman, atau sekedar berpamitan "duluan ya.." kepada seseorang. Tapi seringkali stimulus yang aku ciptakan itu nggak direspon bahkan dicauhkan. Memang ada faktor kesalahanku sendiri di sini. Tanggung dalam  memberikan stimulus, sehingga ketika aku menyapa ada kemungkinan orang yang aku sapa tidak mendengar suaraku jadi dia cuek saja, tapi yang selalu memalukan dan mengesalkan adalah orang-orang di sekitarnya itu mendengar suaraku, jadi justru merekalah yang merespon. Ini sangat membuatku malu sebenarnya. Aku nggak sanggup kalau harus begitu terus. Alasan lain yaitu, respon yang ak terima seringkali tidak sesuai harapanku. Terkadang mereka hanya melihatku dengan sedikit "heran", mengangguk, tidak membalas sapaanku, bahkan mereka tau tapi mengacuhkanku.
Menyebalkan sekali pokoknya. Itulah alasanku menjadi pasif dan malas menjadi aktif.

Semoga aku bisa mengubah sifatku sesuai harapan orang-orang yang mungkin ingin aku menjadi pencipta stimulus.
Menjadi pasif bukan berarti apatis dan sombong. Tapi ada faktor-faktor lain yang seringkali orang lain tidak tahu.





Rabu, 15 Desember 2010

A-Lonely-Ness

"Loneliness adalah sesuatu yang paling menyakitkan bagi manusia" (Harry Stack Sullivan).

Waktu baca slide Psikologi Umum bab apa yaaa, waduh lupa... hehe, aku nemuin statement itu dari satu tokoh psikologi di bidang itu. Rasanya bener juga sih kalo dipikir. Apalagi manusia sudah kodratnya menjadi makhluk sosial, yang selalu memiliki rasa ketergantungan terhadap keberadaan maupun bantuan orang lain.
Sendiri, menyendiri, kesepian, dan kesendirian.
Semua kata itu merujuk ke hal yang kelihatannya malang banget. Kasihan. Suram. 
Aku bakal ngomong tentang diriku aja nih buat ngungkapin unek-unek mengenai hal itu tadi.
Sering aku bohong sama diriku. Aku selalu mencoba mengatakan dan membuat diriku menerima bahwa kesendirian itu lebih baik dan menyenangkan bagiku. Padahal sebenarnya kesendirian adalah hal yang aku benci dan membuatku rapuh.
Sebenarnya aku benci sendiri, kesepian, dan kesendirian.
Tapi memang aku akui ketika aku sendiri aku bisa lebih memahami diriku dan menikmati duniaku, berdua dengan diriku saja.
Aku tak usah terlalu ribet dan rumit memikirkna perasaan orang lain. Hanya aku dan diriku, berdua dengan bebas melakukan dan merasakan apapun, sangat privat dan aku memang menikmatinya. Aku bisa menggila dengan diriku tanpa merasa malu pada orang lain. Aku bisa menangis sepuasku. Aku bisa menjadi soliloquist semauku. Aku bisa berkhayal apapun sekehendakku. Aku bisa marah dan menggerutu sesukaku.Aku bisa melakukan kekonyolan bersama diriku, tertawa tak jelas, dan merasa bodoh, tanpa takut ada yang mengatakan bodoh dan menertawakan dengan sinis atau mempermalukan. Aku bisa merenung menyusun rencana hidupku ke depan. Aku bisa merenung memikirkan waktu yang aku punya yang ingin kugunakan untuk apa.
Aku bisa bebas. Sangat bebas, bersatu dan berdua dengan diriku.

Tapi suatu saat aku sangat membenci A-LONELY-NESS. Sometimes, alone is worst. Lonely is worst. Lonelliness is worst. Sometimes....
Kadang saat aku sendiri aku merasa tak kuat menghadapi hidup ini.
Kadang aku merasa tak mampu melanjutkan langkahku menuju garis finish ketika aku sendiri.
Aku selalu merasa panik dan tak tenteram ketika aku sendiri.
Aku takut. takuuu sekali, pada sesuatu yang abstrak dan entahlah. Takut.
Sendiri itu nonsense!
Sendiri itu menyebalkan.
Ketika sendiri, aku tak bisa melakukan hal yang ilogical tapi mungkin bisa dilakukan, karena kemampuanku terbatas.
Ketika sendiri aku tak bisa melakukan social comparison agar memacuku lebih kuat menjadi lebih baik.
Sendiri membuatku gila. Sendiri itu hal yang bisa membunuhku. Bukan secara fisik memang, tapi lebih ke batin.

Aku lebih suka keterbukaan dan kebersamaan.
Ketika aku bisa bicara dan berbagi dengan orang lain, benar-benar menyenangkan sekali rasanya.
senang dan bahagia, tenang, ayem, dan berpikiran lebih luas.
Komunikasi, kepedulian, keterbukaan, dan kebersamaan adalah hal yang sangat berharga bagi hidupku sekarang.
Dengan adanya itu semua aku merasa damai dan tenteram.
Aku merasa aku ada dan aku dianggap ada.
Aku ingin itu semua.
Tapi bukan berarti aku membenci dan tidak mengharapkan kesendirian. Bagaimanapun aku tetap membutuhkan waktu untuk sendiri dan menyendiri, suatu kali, suatu saat.
















Selasa, 14 Desember 2010

Kata Penyemangat dari Seorang Sahabat


11:10 PM, 14 Desember 2010
              
 Ketika aku lemah dan merasa gagal lalu aku buka kata-kata ini. Kata-kata ajaib dari sahabatku. Meski kami jauh, aku merasa dekat, karena semangatnya. Aku merasa bangkit lagi dan menyadari keadaanku yang aku rasa lebih mudah dari dirinya. Perjuanganku belumlah seberat yang harus dilaluinya. Dia adalah sesorang yang membuat aku selalu merasa bisa dan mampu. Dia yang selalu memberitahuku bahwa aku punya kemampuan untuk melakukan sesuatu padahal aku tak yakin sama sekali. Dan dia adalah orang yang selalu terlihat bersemangat, tapi aku tak tahu, apakah dia sepertiku, yang selalu ingin terlihat kuat dari luar tapi sesungguhnya sangat rapuh di dalam. Aku harap tidak dan aku rasa memang tidak, dengan melihat langkah-langkahnya sejauh ini. Dia memang kuat. Aku salut dan bangga punya sahabat seperti dia. Sungguh, aku ingin kami bersahabat untuk saling berbagi terutama semangat untuk selamanya. Mungkin aku berlebihan, tapi  aku benar-benar merasa tertolong dengan setiap kata semangat dan kebijaksanaan yang muncul dari kata-kata yang diucapkannya.
Ini beberapa kata penyemangat yang pernah dia berikan untukku, ketika aku down dan kehilangan semangat dan butuh seseorang untuk membantuku berdiri lagi. Dan saat itu, ketika kami dekat, dia selalu menjadi penyemangat ketika aku butuh motivator. Namun kini tidak bisa seperti dulu lagi karena kami jauh. Tapi aku tetap bisa merasakan semangat yang pernah diberikannya.
Kita Bisa!
                Awalnya aku ragu, bimbang…
                Kucoba melangkah, aku masih takut!
                Aku menangis,
                “harus bagaimana?”
                Tapi, kuyakinkan diriku,
                “AKU BISA!
                AKU PASTI BISA!!”
                Ku melangkah dengan pasti,
                …. Sulit….
                Ku tetap melangkah
                … sakit …
                Tak apa
                “aku mau menyerah saja”
                Ku singkirkan jauuuh-jauuuhh kata-kata itu…
                 gagal
                Aku bangkit lagi,
                Aku lakukan lebih baik lagi,
                Terbaik yang aku bisa!
                Dan,
                “finish”
                Benar, AKU BISA!
                Dengan sebuah keyakinan dan kerja keras adalah harga mati!!
                SEMANGAT!!
tuk sahabatku, mmp, dan untuk aku… (RA)

รจ  Jangan pesimis MMP,
Nek kamu berpikir bisa, PASTI BISA!
=)
KAMU PASTI BISA!! Key?
Kamu pasti bisa!
5 + 5 = 10, kemampuan kamu 10!
Jangan pikir 8…
Eaaa..?

sedih, senang, semangat, dan terharu ketika aku menemukan note ini dalam file lamaku.
terima kasih. terima kasih, terima kasih.
aku berharap kita bisa saling mengenal dan menjaga hubungan baik kita ini untuk selamanya.
di masa depan, aku berharap bisa menjadi orang yang bisa memberimu semangat, seperti yang selalu kamu lakukan saat ini untukku.

Galau

Malam ini, benar-benar galau.
Entah apa yang aku rasakan. Tiba-tiba aku merasa beberapa onggokan sampah menyumbat otakku, memborbardir kebahagiaan dan ketenanganku. onggokan-onggokan sampah itu memang tak terlihat tapi cukup membuat perutku mual, ototku leherku tegang, pikiranku kacau, dan perasaanku yang tak menentu, gundah, gelisah, takut, khawatir, mungkin frustrasi.
Sebenarnya aku pun tak tahu harus menulis apa. Tapi saat ini passionku untuk menulis tiba-tiba saja muncul. Mungkin karena efek warna orange dalam background baru blogku ini. Haha, masih saja bisa berkata konyol.
Saat ini pikiranku bercabang menjadi sangat banyak. Satu jalur bercabang ke arah liburan, menerawang jauh ke darah rumahku, memikirkan aku akan melakukan apa untuk nanti. Ada sepercik ketakutan ketika pikiranku menerawang jauh ke duniaku dulu, ke rumahku. Aku takut dengan suasana dan keadaan itu. Konflik besar sedang mengguncang batinku saat ini, aku bingung harus tinggal lebih lama di tempatku saat ini atau harus pulang. Decision... decision.. dan decision.. harus selalu aku lakukan. Aku butuh berbicara dengan seseorang yang aku rasa aku butuhkan saat ini.  I need to talk to you...! But You seem don't care. I'm afraid stay here alone. I'm afraid. Really afraid.

Yang aku pikirkan saat ini adalah banyaknya tugas yang seperti mengejar-ngejar aku. banyak sekali jejalan informasi mengenai waktu deadline tugas, berantakan sekali dalam otakku. Dan yang membuatku semakin gundah, gelisah, dan khawatir adalah aku belum memulai menyelesaikan satu tugas pun. Mungkin aku sudah menyelesaikan beberapa tugas, tapi aku merasa belum mengerjakannya dengan maksimal dan merasa puas dan lega.
Mungkin yang membuatku semakin merasa tersudutkan dengan keadaan dan kenyataan yang harus ku hadapi saat ini adalah karena aku sendiri, tidak ada yang mengajakku bicara mengenai masalahku. Aku tahu, aku harus mandiri dalam menghadapi semua ini. Dan aku pun tahu setiap orang punya masalah, hidup tanpa masalah itu sepertinya nonsense..!
aku sangat sangat menyadari perbedaan ketika aku bisa berbicara dan berbagi beban dengan orang lain daripada hanya memendamnya sendirian. Sangat berbeda. Seberat apapun masalah yang aku hadapi ketika aku bisa bercerita dengan orang lain semua terasa ringan dan bahkan tidak seberapa dibandingkan masalah orang lain.

Komunikasi itu perlu, sangat perlu. Sosialisasi itu juga perlu.
Aku mungkin berbohong kepada diriku sendiri ketika mengatakan aku mencintai kesendirian. Sebenarnya aku sangat takut dengan kesepian dan kesendirian.
Tapi aku hanya tak ingin dan tak mau membuat diriku tentram ketika mengharapkan orang lain. Karena ketika harapan itu berbuah hampa sangat menyakitkan dan menyedihkan. Aku hanya tak ingin itu terjadi.
Aku memang pengecut. Aku hanya membutuhkan rasa aman dari dalam diriku untuk survive dan bertahan.









Keterbatasan yang Tak Membatasi



        Suatu kali saya bersama seorang teman saya mengikuti seminar yang diadakan lembaga kemahasiswaan di suatu perguruan tinggi di Indonesia. Seminar ini sudah berskala nasional karena terbuka bagi mahasiswa, pelajar, akademisi di seluruh Indonesia dan juga kalangan umum yang berminat. Ada beberapa pembicara yang dihadirkan dalam seminar dan talkshow tersebut. Mereka semua termasuk orang-orang hebat yang berpengalaman dan cukup ahli di bidangnya. Seminar ini merupakan rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari dan terdiri dari dua sesi.
        Hal yang saya anggap menakjubkan dari acara ini adalah karena PO (Project Officer) acara ini yang istimewa bagi saya. Awalnya setelah berada di ruang seminar tersebut, saya merasa aneh dan hanya saling pandang dengan teman saya ketika ada seorang mahasiswa memakai jaket almamater kampusnya berjalan menggunakan tongkat sambil dibantu temannya menuju ke arah para pembicara hebat dalam seminar tersebut. Lalu kami hanya mengamati apa yang dia lakukan. Dia duduk di sebelah para pembicara hebat itu sambil mengatakan sesuatu, sepertinya mengenai acara seminar waktu itu. Beberapa saat setelah acara dimulai, pembawa acara memanggil PO acara tersebut untuk memberikan sambutan. Yang membuat saya cukup terkejut yaitu ketika mahasiswa yang memakai tongkat itu maju ke arah podium untuk berpidato singkat. Dia tidak begitu mengharapkan bantuan rekannya untuk berjalan ke arah itu, karena rekannya hanya membantu mengarahkan mikrofon mendekati mulutnya dan hanya membantunya naik ke atas podium yang sedikit bertingkat itu. Ternyata mahasiswa buta itu adalah PO dari acara sebesar itu. Saya merasa kagum dan heran, bagaimana bisa seorang mahasiswa dengan keterbatasan fisik mampu menjadi PO acara besar dan mampu berpidato dengan baik, jelas, dan lugas.
        Karena cukup penasaran, saya menanyakan hal mengenai dia kepada senior saya yang juga menjadi panitia seminar tersebut. Ternyata dia adalah mahasiswa semester akhir perguruan tinggi yang menyelenggarakan acara itu. Dalam seminar tersebut saya sempat melihatnya memegang telepon genggam. Hal itu membuat saya bertanya-tanya bagaimana caranya dia menulis sms atau mengoperasikan telepon genggamnya padahal dia buta. Lalu senior saya bercerita sedikit tentang dia. Walaupun dia punya keterbatasan fisik, dia tetap dapat menggunakan teknologi. Setiap hari dia selalu membawa laptop ke kampus. Cara mengoperasikan alat-alat elektroniknya adalah dengan memasang software khusus dalam laptop maupun handphonenya. Dia menggunakan indera pendengarannya untuk memaksimalkan kemampuan lain dalam dirinya dan tidak bergantung pada kekurangannya, yaitu matanya. Bahkan meskipun dia buta dia bisa menghasilkan karya-karya tulisan yang bermutu, terbukti dengan beberapa kali tulisannya dimuat di media massa nasional yang cukup ternama. Menurut senior saya itu, sebagai PO acara besar dengan keterbatasan fisik, dia sangatlah luar biasa karena dia tidak mudah menyerah bahkan selalu memberi semangat kepada para stafnya sehingga membuat staf-stafnya merasa bahwa orang yang fisiknya kurang sempurna saja bersemangat dan bisa, mengapa orang yang fisiknya sempurna tidak? Dia hidup dalam keterbatasan yang tidak membatasi dirinya untuk menjadi luar biasa bagi orang lain.
        Hal tersebut cukup membuka hati saya untuk lebih bersyukur kepada Tuhan. Ternyata saya masih jauh lebih beruntung dari orang lain yang kekurangan. Kejadian itu juga memacu saya untuk bisa berbuat lebih dari orang yang memiliki keterbatasan. Mereka saja bisa, mengapa saya tidak.

(bahan sebagai tugas jurnal mata kuliah logpenil, Desember 2010.)