Selasa, 31 Mei 2011

Useless. Semua Balik Lagi ke Diri Sendiri.

Rasanya percuma mengikuti sesi demi sesi itu. Aku belum merasakan adanya pencerahan. Bahkan tiap kali akan memulai suatu sesi yang aku harapkan bisa memberiku pencerahan itu, aku selalu takut, malu, enggan, segan, dan ragu. Entah kenapa...
Awalnya aku datang ke tempat itu membawa harapan besar akan ada keajaiban besar yang bisa menolongku. Aku berharap ada orang bijak yang bisa mengertiku, mungkin seperti sosok Ajahn Brahm, atau siapapunlah yang bijak.
Aku berharap dia benar-benar bisa mengerti aku dan memahami apa yang aku alami dan rasakan. Aku sangat berharap dia seperti itu... Rasanya aku telah mengharapkan dia menjadi sosok seperti peri yang bijak dan serba tahu. Padahal dia juga hanya manusia biasa.
Sesi awal aku datang aku rasa aku amat emosional. Menggebu-gebu. Meskipun rasanya aku takut, sedikit enggan, tapi bagian lain dari diriku mengatakan aku harus mencobanya. Ini penting, karena aku sudah tak mampu menyimpannya sendiri.
Aku tak tahu harus memulai dari mana. Aku kebingungan. Namun aku paksakan untuk berbicara. Aku mengatakan apa yang aku rasakan, namun kacau, berantakan sekali. Aku yakin dia kebingungan. Aku sendiri saja bingung dengan masalahku ini. Aku benar-benar tak tahu harus memulai darimana dan bagaimana menciptakan alurnya.
Ah Tuhan... Semua begitu jelas dalam pikiranku, semua begitu banyak ingin menyerbu keluar satu persatu hingga aku kebingungan harus yang mana dulu yang aku keluarkan. Semua seolah menyeruak ingin keluar. Membuatkau random karena kebingungan. Aku tahu apa yang aku alami. Namun mungkin karena telah banyak rasa yang aku pendam dan rasakan sendiri aku kesulitan mengungkapkannya. Banyak jejalan dalam otakku.
Dan sampai sesi ketiga pun aku rasa aku masih belum memeroleh pencerahan, justru makin bingung dan tak nyaman dengan semuanya. Aku takut untuk sepenuhnya jujur. Aku malu untuk sepenuhnya berkata lengkap tentang semua. Aku enggan mengorek-ngorek isi pikiranku akan hal ini. Aku malas memikirkannya. Aku hanya ingin seseorang itu mengerti apa yang aku rasakan tanpa perlu aku bersusah payah mengorek ulang dari awal. Itu menyakitkan. Memuakkan. Rumit seperti benang kusut. Bundet.
Aku harus bagaimana...? Makin lama aku makin tak nyaman dengan sesi-sesi ini. Aku rasa dia pun muak karena aku tak bisa mengeluarkan apa yang aku rasakan, hanya membuatnya bingung saja. Dan mungkin dia telah sedikit salah persepsi mengenai kisahku ini. Mungkin aku terlihat sekadar mengarang cerita, mungkin dia berpikir aku seharusnya mengambil tindakan itu saja, yang selalu aku jawab jika dia balik melontarkan pertanyaan atas pertanyaanku. Aku tahu aku menjawab dengan rasional. Tapi jawabanku itu bukan jawaban yang sebenarnya ada dalam perasaanku. Memang itu logis tapi bukan yang aku pikirkan sebenarnya. Aku menjawab seperti itu karena aku takut dan enggan untuk makin berlama-lama. Aku memang tidak sabaran orangnya.
Aku pun memiliki persona yang berlipat. Selalu bersembunyi di baliknya. Aku merasa aman, karena aku terlalu takut dengan orang lain, dengan semua pandangannya terhadapku jadi aku memakai topengku. Yang berarti aku harus membohongi diriku sendiri demi orang lain. Mungkin memang aku merasa tenang dan nyaman, namun sebenarnya tidak juga. Aku makin tersiksa. Namun aku tenang. Ya seperti itulah. Munafik.
Dari sesi-sesi yang telah aku jalani sepertinya aku tahu bahwa semua akhirnya berbalik kepada diriku lagi sepenuhnya. Dia selalu bertanya balik tentang pertanyaan dan keluhanku. Ya mungkin itu memang seharusnya dia lakukan sesuai dengan prosedur client centernya. Tapi saat ini aku tak memerlukan itu. Kalau begitu aku tak perlu pergi ke tempat itu karena aku akan memcahkannya sendiri.
Ah.. Semua makin runyam rasanya. Perasaanku dan pikiranku.
Ingin kusudahi saja sesi-sesi ini karena pun aku tak mendapat apapun. Aku rasa useless... Aku hanya berusaha memberitahukan aibku pada orang lain. Entahlah aku menyesal atau tidak atas semua ini.
Mungkin benar juga apa katanya, semua terlihat tak rasional tapi aku terlalu memaksakan semua agar tetap rasional. Dan sepertinya yang dia tahu adalah bahwa seharusnya aku telah bisa memutuskannya... tapi tidak semudah itu, dia belum mengertinya. Semua masih terlalu dangkal.
.......................




Sabtu, 28 Mei 2011

Setengah Nyata Setengah Mimpi

Bagian ini yang sulit aku beritahukan kepada semua orang.
Hanya aku yang bisa mengerti karena aku yang merasakannya sendiri. Sulit bagiku untuk mendefinisikannya untuk orang lain mengertinya.

Ketika orang lain menanyakan kepadaku perihal itu, apakah benar aku telah memilikinya sekarang dan menjalani hubungan romantic relationship itu, aku bingung harus menajawab apa. Ketika kujawab ya, lalu mereka menuntutku untuk menceritakan tentang hubunganku ini, mencakup, siapa nama pacar, bagaimana kenalan, dimana ketemunya, bagaimana pacarannya? Aku seolah stuck. Tak bisa menjawabnya.
Sebenarnya bukan tak bisa menjawabnya, aku bisa karena semua pertanyaan itu memang memiliki jawaban. Hanya saja aku tak tahu bagaimana cara membuat orang lain mengertinya.
Pertanyaan pertama, siapa dia? Pasti orang lain ingin tahu tentang nama, usia, tempat kuliah/kerjanya, alamatnya, orang asli mana, kaya apa kok bisa sampai suka, dan bla bla bla lainnya.
Sebenarnya mudah saja aku jawab, hanya saja yang membuatkua sulit menjawan adalah reaksi dan penilaian mereka terhadap hubunganku ini. Aku sangat takut untuk dijudge buruk oleh mereka. Mereka tak akan mengerti kenapa serumit ini bagiku....
Selanjutnya mengenai alur kami bisa menjalin hubungan ini juga sulit kujelaskan karena terlalu rumit dan mungkin bagi mereka yang masih waras hal yang kualami sedikit bodoh, atau memang bodoh dan kedengarannya aku seperti terlalu buta dan irasional. Entahlah hal negatif apalagi yang akan mereka berikan untukku ketika aku mengatakan bagaimana alur ceritaku ini. Jadi lebih baik aku diam. Namun ketika aku diam, mendiamkan semuanya dan tidak membuat sejenis pengumuman bahwa aku telah menjalin komitmen semua mengira aku masih terlalu bebas dan ada yang ingin mendekat dan masuk dalam sebagian duniaku. Aku merasa serba salah. Karena antara aku dan dirinya memang telah ada komitmen. Dan semua ini adalah nyata. Dan dia akan sangat cemburu ketika aku berhubunngan akrab dengan orang lain...
Aku serba salah. Duniaku terbelah....





Damn! Sucks!

Brengsek!
B.r.e.n.g.s.e.k.

Damn..................damn..................damn...

Goblok emg gue tuh!
Begoo.
Brengsek!


Begooooo....!

Jumat, 27 Mei 2011

Galaunya U.A.S.

at midight: 12.01 am.
Ditambah galau karena terobrak-abriknya perasaan karena menguapnya kekesalan seseorang yang masuk dan memengaruhi kehidupanku...

berharap kerja keras dan usahaku membuahkan hasil setimpal.
karena bagiku kerja keras berbanding lurus dengan hasil.

Terobrak-Abrik Angin Ribut

Ketika kemurkaanmu muncul, menguap dalam hangatnya hubungan kita,
Kurasakan goncangan keras menimpa ruang dalam perasaanku.
Bukan hanya goncangan namun juga badai besar, berangin kuat, membawa semua kisah, ucapan serta janji-janji itu menjadi terobrak-abrik, berantakan.
Suram.
Semua berubah menjadi buruk ketika kekesalanmu muncul.
Aku butuh seseorang yang pengertian tak hanya ingin dimengerti.
Mungkin menurutmu kau telah terlalu mengerti aku dan selalu mencoba mengertiku.
Namun jujur bagiku kau justru kurang pengertian dan hanya ingin dimengerti karena bagimu kau telah cukup atau mungkin sangat mengertiku.
Sebenarnya apa yang kamu maksud dengan pengertian?
Sepertinya semua definisi kita dalam beberapa hal.
Aku terlalu takut melepasmu namun aku pun tak berdaya dengan situasi saat kekesalanmu menguap hanya karena masalah komunikasi, yang bagiku tak begitu perlu diributkan.
Ataukah itu semua bukti besarnya perasaan itu untukku?
Tapi itu juga siksaan bagiku.
Aku yang terbiasa bebas dan tak terikat kini harus menjalani suatu ikatan perasaan.
Butuh proses untuk menjadi seperti yang kau inginkan.
Aku harusnya tau itu.
Dan dulu yang membuatkua memiliki perasaan ini adalah dirimu.
Bahkan sepertinya kau terlalu memaksaku.
Padahal telah berulang kali ku katakan aku takut dengan sesuatu seperti ini, selalu akan berakhir dengan luka.
Aku benar-benar takut...
Sekarang aku telah memutuskan untuk akhirnya terjatuh dalam classical conditioningmu, yang dulu telah selalu kutolak. Namun akhirnya CSmu pun berhasil membuatku memiliki CR.
Oh Tuhan sepertinya aku sedikit menyesal dengan keputusanku waktu itu.
Karena sekarang aku merasakan penderitaan karena kusadari lagi aku tak sebebas dulu.
Meskipun dari ikatan perasaan inipun aku telah merasakan kebahagiaan dan sensasi perasaan positif yang belum pernah aku rasakan.
Namun aku begitu takut untuk ditinggalkan dan perpisahan.
Aku sangat-sangat takut Tuhan karena ku telah terjatuh dalam dalam perasaan ini.
Dan ketika semua itu menyerangku, hatiku berkecamuk lebat, bagai terkena angin ribut.
Berantakan, suram, dan menakutkan.
Aku takut...





Minggu, 22 Mei 2011

Always There a Hurt in a Love


Aku rasa kehidupanku berbeda dari kebanyakan orang normal. Karena masalah itu.
Aku rasa aku gila. Dan duniaku pun gila, penuh ketidakwarasan. Apa ini normal? Atau mungkin hanya persepsiku yang berlebihan dalam memandang masalah yang aku alami sekarang. Mungkin kalau orang lain yang mengalami masalah sepertiku ini tidak akan se”lebay” aku. Yah mungkin aku memang yang terlalu lebay dengan masalahku ini. Tapi dalam setiap hal aku selalu merasa takut untuk men”judge” aku dan masalahku sebagai masalah yang tidak normal yang tidak seharusnya aku alami, karena mungkin bagi orang lain masalah ini adalah normal. Aku selalu merasa tidak bebas atas hidupku dan segalanya milikku, karena orang lain, karena kehadiran mereka membuatku berubah menjadi objek, sesuatu yang aku benci. Aku suka pernyataan dari Sartre, bahwa orang lain adalah neraka bagi kehidupan seseorang, jahat memang kedengarannya. Tapi aku rasa itu benar, meskipun tak sepenuhnya.
Aku pusing dengan masalahku ini. Gila, konyol, dan mungkin buruk. Yang benar saja, aku mencintai seseorang yang dicintai seseorang yang sangat aku cintai dan berharga dalam hidupku. Meskipun sebenarnya disini kalau dilihat secara logika seharusnya aku yang lebih pantas mendapatkan seseorang itu. Tapi itu sekadar logika, bukan perasaan. Aku belum memiliki ikatan sakral apapun dengan seseorang. Dalam hal ini bisa dibilang aku masih bebas dan berhak untuk menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Sedangkan orang itu, seseorang yang berharga dalam hidupku, kebalikanku.
Kemudian dari segi waktu hidup. Mungkin dalam beberapa hal dan bagi sebagian orang hal ini bukan hal yang penting dan perlu dipertimbangkan. Namun secara rasional hal ini menjadi pertinmbangan penting dalam suatu hubungan. Akulah yang lebih pantas. Seharusnya, kalu masih menggunakan logika. Namun berbeda konteks dan menggunakan cara penilaian lain (perasaan, pemikiran irasional) hal ini tidak bermasalah. Namun dalam tulisanku kali ini aku membicarakan mengenai kerasionalan dan logika.
Selanjutnya dari segi peradaban, ilmu, pendidikan, dan sejenisnya, seharusnya pula aku yang kebih pantas. Aku merupakan generasi kedua sedangkan dia generasi pertama. Dari segi pengalaman mungkin memang dia lebih dariku namun dari ketiga hal tadi aku lebih darinya. Dan itulah alasan secara logis aku pantas mendapatkan dirinya, bukan dia.
Dari segi apapun aku rasa aku pantas secara logis menjalani hubungan dengannya. Bukan dia.
Namun terluka sekali hatiku ketika terkadang aku berpikir mengenai ini dengan penggunaan rasio dan logika, dan terlebih perasaan. Hancur, tertusuk, sakit sekali.
Namun entahlah masalahku ini memang kurang rasional dan sangat menyebalkan. Aku membencinya. Sangat. Aku tak tahu harus bagaimana dengan semua ini. Aku pun sangat ketakutan kalau ternyata semua adalah persona. Aku… entahlah aku benci.

I am Worried 'Bout You

Jujur aku masih merasa irasional dengan semuanya.
Hanya saja sepertinya tentang perasaanku itu adalah ungkapan kejujuran dari hatiku yang terdalam.
I'm really falling for you.
Takut sekali untuk kehilangan dirimu saat ini.
Meskipun entahlah, aku tak tahu apakah aku telah benar-benar meyakini keberadaanmu dan semua cerita tentangmu. Tapi aku rasa iya aku meyakininya. Semua terasa nyata dan suatu kebenaran serta kejujuran. Namun ketika pikiranku berubah menjadi sebuah pikiran yang logis, dan ketika aku mendengarkan pendapat orang lain mengnenai hal ini, keraguan itu muncul. Memang bagi orang yang tak mengalaminya secara langsung, sepertiku, hal ini akan dianggap hal yang tidak dapat dipercaya, sangat diragukan, dan mungkin mereka menjudgeku bodoh atau apapun itu, suatu celaan pastinya. Kecuali orang yang benar-benar memahami kisahku denganmu ini. Dan semua ini masih terus menjadi rahasia Tuhan. Entah kapan kita akan bertemu secara nyata dan memadu perasaan kita secara nyata.
Hanya Tuhan yang tahu kelanjutan kisah ini, kisah yang amat rumit, tidak begitu masuk akal, dan gila mungkin.
Aku telah terlibat terlalu dalam secara emosional dengan dirimu. Aku ingin mempertahankan hubungan ini, lebih dekat dan nyata.
Tapi.... sesuatu yang kau derita itu (penyakitmu) membuatku sangat khawatir. Entah itu nyata atau skenariomu, tapi aku telah bilang aku percaya pada itu. Penyakitmu yang membuatmu lemah dan tak berdaya sekarang sungguh sangat mengganggu pikiranku.
Aku tak ingin hal itu merenggutmu untuk selamanya. Aku baru saja jatuh untukmu dan tiba-tiba kau akan pergi? Enak saja. Aku tak akan merelakannya. Aku akan gila! Transisi yang cukup tajam dalam hidupku ini telah membuatku tertekan namun aku menyukainya.
Inilah hidup, penuh masalah dan ketidakmasukakalan. Kamu membuatku tahu bahwa hidup yang indah itu bukanlah yang selalu datar, tapi bergejolak dan  bergelombang seperti ini.
Meskipun memang berat untuk dijalani.
Untuk saat ini aku benar-benar mengharapkan dirimu sembuh dan pulih kembali. Aku ingin bertemu denganmu. Tuhan, perkenankan kami bertemu, izinkan kami bertemu, secepatnya, sebelum hal buruk itu mungkin terjadi.
Aku tak rela jika harus kehilanganmu, jika harus kau tinggal pergi selamanya.
Aku berharap deritamu segera berakhir dan kita bisa menjalani hidup ini dengan normal, terutama untukku.
Karena kurasa aku tak menjalani kehidupan ini dengan normal. Aku sakit. Mungkin begitulah.
Sekarang kau sungguh menyita konsentrasi serta pikiranku. Perasaan ini begitu dalam dan harapanku sangatlah menggebu.
Jangan pergi. Aku mengkhawatirkanmu. Sangat khawatir dengan keadaanmu saat ini, Semoga deritamu itu nyata dan kisahmu itu memang nyata. Aku tulus mendoakan kesembuhanmu. Semoga dia mengabulkannya.

Tuhan, hamba mohon jadikan hamba memperoleh kejelasan atas semua kesemuan ini,
Hanya Kau yang bisa menunjukkan semuanya dengan jelas kepadaku.
Dan hamba mohon, sembuhkan dia, berikan dia kesehatan, berikan dia kekuatan untuk bertahan dan berjuang melewati masa sulitnya ini (*jika semua memang kenyataan bukan skeneario),
Berikan keajaiban untuknya Tuhan. Berikan kemudahan untuknya dengan kuasaMu.
Karena semua itu akan berdampak pada hamba,
jangan biarkan hamba semakin gila dengan semua ini, Tuhan...
Jangan hancurkan hamba, karena saat ini jujur hamba telah merasa sedikit berantakan.
Atau malah cukup berantakan.
HAmba merasa terjebak dalam dunia yang setengah abstrak dan setengah nyata.
Semoga dia adalah anugerah yang indah yang memang Kau kirim untuk hamba...
Tuhan, tolong beri hamba kemudahan pula, untuk mendapatkan kejelasan atas semua ini.
Hamba cukup menderita dengan apa yang hamba jalani sekarang, meskipun hamba menikmati dan menyukainya....
Kau tahu yang terbaik, hamba hanya mengharap yang terbaik untuk yang terbaik. Hanya Kau yang bisa memberikan yang terbaik, Tuhanku...
Amiin...