Selasa, 14 Desember 2010

Galau

Malam ini, benar-benar galau.
Entah apa yang aku rasakan. Tiba-tiba aku merasa beberapa onggokan sampah menyumbat otakku, memborbardir kebahagiaan dan ketenanganku. onggokan-onggokan sampah itu memang tak terlihat tapi cukup membuat perutku mual, ototku leherku tegang, pikiranku kacau, dan perasaanku yang tak menentu, gundah, gelisah, takut, khawatir, mungkin frustrasi.
Sebenarnya aku pun tak tahu harus menulis apa. Tapi saat ini passionku untuk menulis tiba-tiba saja muncul. Mungkin karena efek warna orange dalam background baru blogku ini. Haha, masih saja bisa berkata konyol.
Saat ini pikiranku bercabang menjadi sangat banyak. Satu jalur bercabang ke arah liburan, menerawang jauh ke darah rumahku, memikirkan aku akan melakukan apa untuk nanti. Ada sepercik ketakutan ketika pikiranku menerawang jauh ke duniaku dulu, ke rumahku. Aku takut dengan suasana dan keadaan itu. Konflik besar sedang mengguncang batinku saat ini, aku bingung harus tinggal lebih lama di tempatku saat ini atau harus pulang. Decision... decision.. dan decision.. harus selalu aku lakukan. Aku butuh berbicara dengan seseorang yang aku rasa aku butuhkan saat ini.  I need to talk to you...! But You seem don't care. I'm afraid stay here alone. I'm afraid. Really afraid.

Yang aku pikirkan saat ini adalah banyaknya tugas yang seperti mengejar-ngejar aku. banyak sekali jejalan informasi mengenai waktu deadline tugas, berantakan sekali dalam otakku. Dan yang membuatku semakin gundah, gelisah, dan khawatir adalah aku belum memulai menyelesaikan satu tugas pun. Mungkin aku sudah menyelesaikan beberapa tugas, tapi aku merasa belum mengerjakannya dengan maksimal dan merasa puas dan lega.
Mungkin yang membuatku semakin merasa tersudutkan dengan keadaan dan kenyataan yang harus ku hadapi saat ini adalah karena aku sendiri, tidak ada yang mengajakku bicara mengenai masalahku. Aku tahu, aku harus mandiri dalam menghadapi semua ini. Dan aku pun tahu setiap orang punya masalah, hidup tanpa masalah itu sepertinya nonsense..!
aku sangat sangat menyadari perbedaan ketika aku bisa berbicara dan berbagi beban dengan orang lain daripada hanya memendamnya sendirian. Sangat berbeda. Seberat apapun masalah yang aku hadapi ketika aku bisa bercerita dengan orang lain semua terasa ringan dan bahkan tidak seberapa dibandingkan masalah orang lain.

Komunikasi itu perlu, sangat perlu. Sosialisasi itu juga perlu.
Aku mungkin berbohong kepada diriku sendiri ketika mengatakan aku mencintai kesendirian. Sebenarnya aku sangat takut dengan kesepian dan kesendirian.
Tapi aku hanya tak ingin dan tak mau membuat diriku tentram ketika mengharapkan orang lain. Karena ketika harapan itu berbuah hampa sangat menyakitkan dan menyedihkan. Aku hanya tak ingin itu terjadi.
Aku memang pengecut. Aku hanya membutuhkan rasa aman dari dalam diriku untuk survive dan bertahan.









Keterbatasan yang Tak Membatasi



        Suatu kali saya bersama seorang teman saya mengikuti seminar yang diadakan lembaga kemahasiswaan di suatu perguruan tinggi di Indonesia. Seminar ini sudah berskala nasional karena terbuka bagi mahasiswa, pelajar, akademisi di seluruh Indonesia dan juga kalangan umum yang berminat. Ada beberapa pembicara yang dihadirkan dalam seminar dan talkshow tersebut. Mereka semua termasuk orang-orang hebat yang berpengalaman dan cukup ahli di bidangnya. Seminar ini merupakan rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari dan terdiri dari dua sesi.
        Hal yang saya anggap menakjubkan dari acara ini adalah karena PO (Project Officer) acara ini yang istimewa bagi saya. Awalnya setelah berada di ruang seminar tersebut, saya merasa aneh dan hanya saling pandang dengan teman saya ketika ada seorang mahasiswa memakai jaket almamater kampusnya berjalan menggunakan tongkat sambil dibantu temannya menuju ke arah para pembicara hebat dalam seminar tersebut. Lalu kami hanya mengamati apa yang dia lakukan. Dia duduk di sebelah para pembicara hebat itu sambil mengatakan sesuatu, sepertinya mengenai acara seminar waktu itu. Beberapa saat setelah acara dimulai, pembawa acara memanggil PO acara tersebut untuk memberikan sambutan. Yang membuat saya cukup terkejut yaitu ketika mahasiswa yang memakai tongkat itu maju ke arah podium untuk berpidato singkat. Dia tidak begitu mengharapkan bantuan rekannya untuk berjalan ke arah itu, karena rekannya hanya membantu mengarahkan mikrofon mendekati mulutnya dan hanya membantunya naik ke atas podium yang sedikit bertingkat itu. Ternyata mahasiswa buta itu adalah PO dari acara sebesar itu. Saya merasa kagum dan heran, bagaimana bisa seorang mahasiswa dengan keterbatasan fisik mampu menjadi PO acara besar dan mampu berpidato dengan baik, jelas, dan lugas.
        Karena cukup penasaran, saya menanyakan hal mengenai dia kepada senior saya yang juga menjadi panitia seminar tersebut. Ternyata dia adalah mahasiswa semester akhir perguruan tinggi yang menyelenggarakan acara itu. Dalam seminar tersebut saya sempat melihatnya memegang telepon genggam. Hal itu membuat saya bertanya-tanya bagaimana caranya dia menulis sms atau mengoperasikan telepon genggamnya padahal dia buta. Lalu senior saya bercerita sedikit tentang dia. Walaupun dia punya keterbatasan fisik, dia tetap dapat menggunakan teknologi. Setiap hari dia selalu membawa laptop ke kampus. Cara mengoperasikan alat-alat elektroniknya adalah dengan memasang software khusus dalam laptop maupun handphonenya. Dia menggunakan indera pendengarannya untuk memaksimalkan kemampuan lain dalam dirinya dan tidak bergantung pada kekurangannya, yaitu matanya. Bahkan meskipun dia buta dia bisa menghasilkan karya-karya tulisan yang bermutu, terbukti dengan beberapa kali tulisannya dimuat di media massa nasional yang cukup ternama. Menurut senior saya itu, sebagai PO acara besar dengan keterbatasan fisik, dia sangatlah luar biasa karena dia tidak mudah menyerah bahkan selalu memberi semangat kepada para stafnya sehingga membuat staf-stafnya merasa bahwa orang yang fisiknya kurang sempurna saja bersemangat dan bisa, mengapa orang yang fisiknya sempurna tidak? Dia hidup dalam keterbatasan yang tidak membatasi dirinya untuk menjadi luar biasa bagi orang lain.
        Hal tersebut cukup membuka hati saya untuk lebih bersyukur kepada Tuhan. Ternyata saya masih jauh lebih beruntung dari orang lain yang kekurangan. Kejadian itu juga memacu saya untuk bisa berbuat lebih dari orang yang memiliki keterbatasan. Mereka saja bisa, mengapa saya tidak.

(bahan sebagai tugas jurnal mata kuliah logpenil, Desember 2010.)

Senin, 29 November 2010

TERJEBAK DI ANTARA MACAN DAN ULAR


Ada sebuah cerita kuno Buddhis, yang seperti cerita sebelumnya, menggambarkan mengenai bagaimana kira-kira respon kita dalam menghadapi krisis antara hidup dan mati.
Seorang lelaki berlari tunggang langgang dikejar oleh seekor macan di hutan. Macan dapat berlari lebih cepat daripada manusia dan mereka juga makan manusia. Macan itu sedang lapar; lelaki itu sedang kesulitan.
Ketika macan hampir saja berhasil menerkamnya orang itu melilhat sebuah sumur di pinggir jalan. Dalam keputusasannya tanpa pikir panjang dia melompat ke dalam sumur itu. Segera saja dia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal. Sumur itu kering, dan di dasarnya, dia melihat segulung besar ular hitam.
Secara naluriah dia menggapaikan lengannya untuk meraih tepi sumur, dan tangannya menemukan sebuah akar pohon yang mampu menahan laju kejatuhannya. Ketika dia telah merasa cukup tenang, dia melihat si ular hitam menjulurkan tubuhnya setinggi mungkin untuk mencoba menyerang kakinya, tetapi kakinya sejengkal lebih tinggi. Dia lalu mendongakkan kepala dan melihat si macan mencondongkan tubuhnya di bibir sumur untuk coba mencakarnya dari atas; tetapi tangannya sejengkal lebih jauh dari cakar si macan. Selama ia merenungkan keadaannya yang mengenaskan itu, dia meliha t dua ekor tikus, yang satu hitam dan lainnya putih, muncul dari sebuah lubang kecil dan mulai mengerat akar pohon yang dipegangnya.
Selama si macan mencoba mencakarnya, kaki belakangnya berpijak pada sebuah pohon kecil di tepi sumur yang menyebabkan pohon itu bergoyang-goyang. Pada salah satu dahan pohon yang menjuntai dari atas sumur, terdapat sebuah sarang lebah, madu pun mulai menetes ke dalam sumur. Melihat tetesan madu, lelaki itu menjulurkan lidahnya untuk menangkap tetesan madu tersebut.
“Mmmmmm! Sedap sekali,” dia berkata kepada dirinya sendiri dan tersenyum.
Kisah itu, sebagaimanan diceritakan secara tradisi, berakhir sampai di situ saja. Itulah sebabnya kisah itu menjadi kisah sejati bagi kehidupan. Karena kehidupan, sebagaimana sinetron televisi yang bertele-tele, tidak punya akhir yang rapi. Kehidupan ini selamanya dalam proses penuntasan.
Lebih lanjut, sering dalam kehidupan ini kita bagaikan terjebak di antara macan lapar dan ular hitam, di antara kematian dan sesuatu yang lebih buruk, dengan siang dan malam (kedua tikus) mengunyah-unyah seutas tali kehidupan tempat kita bergantung. Bahkan dalam situasi yang menakutkan seperti itu, selalu ada saja madu yang menetes entah dari mana. Jika kita bijaksana, kita akan menjulurkan lidah untuk menikmati tetes-tetes madu itu. Mengapa tidak? Ketika tidak ada yang bisa dilakukan ya jangan ngapa-ngapain, nikmati saja tetes-tetes madu kehidupan.
Seperti yang saya katakan, secara tradisional kisah itu berakhir di sini. Namun demikian dalam rangka membuat sebuah kesimpulan, saya biasanya menceritakan akhir yang sebenarnya dari kisah itu kepada pemirsa saya. Inilah yang terjadi berikutnya.
Tatkala lelaki itu sedang menikmati tetesa-tetesan madu, tikus-tikus itu mengerat akar pohon sehingga menjadi semakin tipis dan tipis saja. Si ular hitam pun terus menjulur-julurkan tubuhnya makin dekat dengan kaki si lelaki; si macan terus mencondongkan tubuhnya lebih dalam lagi hingga cakarnya nyaris menjangkau tangan si lelaki. Lalu si macan dengan penuh semangat mencondongkan kembali tubuhnya lebih dalam lagi, tiba-tiba dia terjatuh ke dalam sumur, meluncur melewati lelaki itu dan menimpa si ular sampai mati; macan itu pun sekarat di dasar sumur.
Yah, itu bisa saja terjadi! Dan sesuatu yang tak terduga biasanya terjadi. Begitulah kehidupan kita. Jadi mengapa menyia-nyiakan momen manisnya madu, bahkan bila kita berada dalam masalah yang benar-benar pelik sekalipun. Masa depan itu tak pasti. Kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi kemudian.

disalin dari Ajahn Brahm. Februari 2010. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Jakarta. Awareness Publication (138-140).
(si cacing dan kotoran kesayangannya; ajahn brahm; 138-140; awareness publication)

my negative self concepts

selalu sulit untuk memulai sebuah tulisan.
sulit untuk mengeluarkan kata-kata awal sebagai pendahuluan yang seharusnya bersifat menarik dan persuasif sehingga orang lain tertarik membaca.
tapi sudahlah, aku tak akan memikirkan itu.
aku hanya akan menuruti keinginan jari-jariku menari di atas papan ketik ini,
mengekspresikan perasaan dan ganjalan dari otakku.
menarik atau tidak menarik? doesn't matterlah, yang penting lega.
pelampiasan, ya itu mungkin kata yang tepat mewakilinya.

ok sekarang aku ingin menulis tentang diriku.
sesuai judul, terutama mengenai self conceptsku yang negatif.
hmm..
aku adalah seorang remaja labil. sangat labil.
sangat mudah berganti mood. moody.
detik ini aku merasa senang, beberapa saat kemudian aku langsung murung tanpa alasan yang jelas bagi orang lain. tapi bagiku jelas. aku khawatir akan sesuatu, dengan tiba-tiba. secondary memoryku muncul  mengingat suatu hal yang tidak seharusnya ku pikirkan saat aku memikirkan suatu hal.
aku adalah mahasiswi psikologi. haha. tapi apa pengaruhnya?
labil adalah manusiawi bukan?
aku tidak setuju dengan pemikiran orang bahwa menjadi mahasiswi psikologi harus memiliki basic ramah, peduli pada orang lain, pengertian, sabar, dan seperti prior knowledge lain yang menuntut keadaan ideal mengenai orang yang terlibat dalam psikologi.
itu tidak benar bagiku, karena di dalam psikologi sendiri, aku masih belajar. proses. butuh proses untuk menjadi seseorang seperti tuntutan ideal orang kebanyakan.
kalau semua orang psikologi telah memiliki basic seperti itu untuk apa mereka harus belajar lagi di psikologi.
orang-orang yang kelihatannya tidak ramah, tidak pengertian, egois, labil, pantas kok masuk psikologi.
karena di psikologi mereka akan belajar menjadi orang ideal seperti tuntutan orang seharusnya. berobat jalan mungkin istilahnya.
aku bicara begitu karena aku adalah salah satu orang yang memiliki sifat tidak ideal dari sisi psikologi.
aku akan belajar dan aku memang butuh mempelajari psikologi. aku pun butuh proses.
yah, berobat jalan, begitulah salah satu tujuanku. terdengar aneh atau tidak enak didengar ya?
tapi tidak salah kan? karena aku ingin menjadi lebih baik.
mengenai negative self concept....
harusnya aku adalah manusia yang penuh syukur.
Tuhan telah sangat baik, menganugerahiku dengan berbagai nikmat, dan bahkan mengabulkan keinginan terbesarku di usiaku yang ke 17, yang kata orang sweet seventeen.
tapi sekarang setelah aku mulai menjalaninya sungguh berat kurasakan.
padahal ini yang kuinginkan.
aku tak tahu apa aku bisa mempertahankan keinginan kuatku di masa lalu, yang telah aku perjuangkan dengan berbagai pengorbanan, atau aku akan memutuskan untuk quit dan mencoba hal baru.
entahlah. masih misteri.

aku selalu merasa aku payah.
tidak sehebat orang lain yang aku anggap hebat padahal mungkin merekapun menganggap dirinya tidak hebat.
aku merasa tidak ada artinya diantara mereka.
aku merasa aku tidak pantas berada di antara orang-orang hebat itu.
aku merasa minder dengan keadaan diriku.
aku merasa tertarik sekali dengan sebuah jurnal harian dalam blog temanku.
karena tulisannya mewakili perasaan dan keadaanku,
ternyata dia juga merasakannya.
ini kutipannya, karena aku lupa jadi aku tulis intinya saja.
"Inilah Aku dan Hidupku
ketika mereka berlenggak-lenggok bak model,
dengan pakaian mahal dan bermerk hasil keringat orang tua mereka,
aku hanya memakai pakaian murah dan tak bermerk ini, tapi aku sangat nyaman memakainya,
ketika mereka memamerkan gadged dan BB mahalnya dari kerja keras orang tuanya,
aku bersyukur masih bisa menggunakan gadged sederhana hadiah orang tuaku atas prestasiku,
ketika mereka asik nongkrong di mall dan bersenang-senang,
aku melakukan pekerjaan pembantu di rumahku, tapi aku menyukainya,
ketika mereka sibuk memikirkan harta warisan yang diberikan orang tuanya nanti,
aku sibuk memikirkan bagaimana aku harus membuat orang tuaku bahagia,
...................................................."
sepertinya itu keadaanku yang membuatku minder.
aku merasa aku tidak pantas dilihat mereka.
aku merasa lebih nyaman ketika aku disappear dan hanya melihat mereka.
tapi terkadang pun aku merasa tercekik dengan hal itu.
tidak enak. walaupun rasanya enak, tapi lebih enak ketika bisa saling memandang antara aku dan mereka.
aku merasa aku nol.
tidak mampu.
tidak berdaya.
tidak bisa apa-apa.
tidak punya kekuatan untuk ku tunjukkan.
oh Tuhan, ampunilah aku yang penuh ketidaksyukuran ini.
ampunilah aku yang mengingkari nikmatMu.
ampunilah aku yang berdosa ini.......
sesungguhnya aku tersiksa dengan paradigmaku itu.
selalu ada konflik dari dalam diriku mengenai keadaan ideal dan keadaan yang sedang ku alami.
aku ingin menjadi lebih baik, tapi itu sulit.
aku ingin mengubah paradigmaku, tapi aku tak berdaya, serasa tidak punya kekuatan.
Tuhan, tolong aku...................




Minggu, 17 Oktober 2010

Gagal vs Bangkit

Sebelumnya maaf ya, dalam pembuatan tulisan ini ga nyantumin daftar pustakanya. Karena waktu itu niatnya cuma iseng setelah baca beberapa artikel inspirasional. Maaf, bukan berniat plagiat. Dan terima kasih untuk beberapa sumber inspirasional tersebut.



Huy fren!
Kali ini aku pingin nulis tentang gagal n bangkit! Cuz aku sempet ngerasa frustasi abis saat aku gagal. Aku jadi ngerasa kaya bener-bener ancur n terpuruk banged.. Maka na aku pingin sharing dikit tentang 2 hal itu.
Aku yakin, tiap orang pasti pernah ngalamin kegagalan. Termasuk kita. Entah itu gagal dalam ulangan, gagal dalam masalah per”luph2”an (^ ^)v, gagal dalam bisnis, ato masalah lainnya, karena kegagalan itu pasti ada dalam tiap bidang kehidupan kita.
Kegagalan adalah saat segalanya tidak sesuai dengan harapan kita, sesuatu yang membuat kita merasa hancur, sesuatu yang terkadang membuat kita patah semangat, sesuatu yang membuat kita frustasi, terpuruk dan sesuatu yang sangat menyakitkan..
Tapi, seperti kodrat kehidupan kita, setiap sesuatu pasti memiliki lawan ato musuh ato apa yah istilahnya… ummm antonim gitu lah… ada cantik, ada jelek, ada kaya, ada miskin, ada tinggi, ada pendek, ada cewek, ada cowok (ada juga banci.. =P.. apaan sih, nyeleweng dari topik nihh..!), ada pinter, tapi gag ada bodho.. (lho.. makin ngaco ajah deh!). Eh tapi bener deh.. cuz sebenerna kita awalnya memiliki kejeniusan atau bisa dikatakan, memiliki kemampuan otak yang sama. Namun sayang, seiring dengan pertumbuhan, kejeniusan itu terkikis atau menjadi terpendam secara tidak disadari karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat dan terutama pendidikan (Buckminster Fuller). Nah maka na gag salah dunz kalo aku nganggep gag ada orang bodho.. xixixi.. (pinter nyangkal..).
Back tu d’ topic… inti na kalo ada gagal pasti ada lawan dari gagal. Sesuatu untuk menjawab sebuah kegagalan.. wad’s that?? Yubz.. bener banged.. BANGKIT! (emang xapa yang jawab, ye.. sotoy nii..). Bangkit, merupakan kata yang mesti kita ucapin kalo perlu kita teriakin, n paling penting kita lakuin saat kita merasa gagal, patah semangat n terpuruk. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya! Jadi kalo kita gagal, kita nggak boleh nyerah gitu aja, langsung pasrah n terpuruk. Kita harusnya bangkit! Mulailah langkah yang baru dan terapkan determinasi diri. Kita tunjukkan keteguhan hati kita, konsisten dengan apa yang sedang kita tuju, dan tidak berhenti sebelum berhasil. Kita ibaratin aja deh, gagal itu kaya batu kecil yang nyandung kita, tapi batu itu nantinya bisa buad kita lebih waspada lagi.
Kita gagal, karena mungkin Allah pingin ngingetin kita supaya kita bisa belajar dari kegagalan itu, biar kita bisa jadi lebih baek lagi. Kita boleh gagal, tapi kita nggak boleh jadi orang gagal. Kita gagal buat bangkit lagi, kita gagal buat nyoba lagi, kita gagal untuk sukses! Kita bisa “ngaca” dari kegagalan para “orang-orang besar”, para ilmuwan, mereka pasti udah pernah n mebi malah sering ngalamin kegagalan. Tapi karena kegagalanlah mereka bisa jadi lebih baek lagi. Mereka jadi terpacu untuk membuat sesuatu yang hebat dan mengejutkan dunia. Kegagalan bagi mereka adalah suatu cambukan yang memang awalnya terasa menyakitkan n membuat luka, tapi pada akhirnya terasa manis dan lembut… karena mereka menganggap sesuatu akan terasa lebih manis lagi setelah mereka merasakan getir. You have to endure caterpillar if you wanna see butterfly (kamu harus tahan terhadap ulat, kalo mau ngeliat kupu-kupu). Pokoknya intinya, kita musti ngelewatin masa sulit (gagal) untuk bisa mencapai sukses!
Karena kegagalan, kita bisa jadi lebih menyelami diri kita sendiri, kita jadi tahu siapa kita, kelebihan dan kekurangan kita dan tujuan akhir kita... Dan kita nggak boleh terlarut dalam kegagalan. Kita musti bangkit! Bangkit dari masa vacum kita, dari tidur kita, dari kehancuran kita. Kita bangkit untuk jadi lebih luar biasa! Kalo kita nggak cepet-cepet bangkit, kita tiduuuurrr terus, pasti kita akan dikubur oleh orang-orang di sekitar kita. Mereka nggak akan nganggep kita lagi. Kalo saat ini kita gagal, gapapa, anggep itu jadi pelajaran. Tapi jangan sampai kita terpaku dalam waktu ini. Biarin hari ini, saat ini berlalu, karena emang waktu terus berputar, jadi mending kita mikirin yang buat esok. Gagal hari ini, esok gag boleh lagi!
Emang sih, gagal itu nyakitiiinn banged, cuz aku sendiri juga sering ngalamin itu, dan buat bangkit itu super duper susah! Emang kalo Cuma teori/di tulisan kaya na gampang, tapi praktikna butuh perjuangan. Tapi kalo kita berhasil berjuang, rasanya semuanya jadi indah banged, nglebihin indahnya syair-syair Kahlil Gibran (sotoy lagi…=P).
Yang musti kita inget, buat memotivasi diri kita sendiri adalah bahwa kegagalan bukanlah akhir kehidupan. Buktinya si raja siang masih nongol dari ufuk timur, memancarkan cahaya hangatnya yang harusnya bisa buat kita sadar, dunia masih ada! Terus lagi ocehan burung yang riuh tapi enak didenger di kuping (daripada suara ku.. n_n), itu juga ngasih tau kita kalo masih ada sesuatu yang indah, sesuatu yang merdu di sekitar kegagalan kita. Makanya kita harus bangkit! Kegagalan nggak ngebunuh kita kog, meskipun kegagalan emang sempet ngebuat kita sesak napas sebentar (emang asma??). Justru yang bisa ngebunuh kita adalah semangat n motivasi kita yang hilang.. Kita musti bangkit n memupuk semangat kita yang baru. Kita bangkit buat diri kita sendiri dan orang-orang yang kita sayang yang udah ngisi kehidupan kita..
Dan kita musti tahu pasti ada hikmah di balik setiap hal, termasuk kegagalan. Langkah selanjutnya tergantung sikap kita, mau ngambil pelajaran dari kegagalan itu, apa Cuma mau nangis or meratapi aja. Jawaban dari kegagalan ada pada diri kita sendiri, kita bebas kog menentukan sikap.. kita Cuma punya dua pilihan : bangkit ato nyerah. Kalo prinsip orang sukses sih “tak penting berapa kali Anda jatuh, yang penting berapa kali Anda bangkit kembali setelah jatuh”. Dan orang yang memutuskan untuk menyerah adalah pecundang!
Kaya na gitu aja deh tulisan dari aku. Semoga kegagalan bisa kita jawab dengan kebangkitan. Dan kita nggak selamanya terpuruk di kubangan kegagalan. Kalo kita pingin dapet pelangi, kita harus mau nerima hujan (Chicken Soup for d Teenage Soul III).
Gud luck vo u all!! ganbatte! n_n

Puisi untuk mengenang pelajaran sejarah SMA ;)

Terima kasih Pak B.T. yang udah ngasih tugas bikin puisi sama prosa waktu itu, seenggaknya bikin aku tertarik dengan sejarah -Perang dingin- (lho, ga ada hubungannya sama puisinya dunk).. wkwkwk. biarin deh yg penitng nulis dan mencurahkan hati... :)

Refleksi Kemerdekaan

Kita bebas, tapi terjerat
Kita merdeka, tapi terjajah
Dulu jaya, sekarang tak berdaya
Kita kaya, tapi miskin
Kita pandai, tapi bodoh

Kita bebas, tapi terjerat
Terjerat dalam kubangan derita
Begitu dalam, tapi kasat mata
Tak lagi terlihat seperti derita saat ditindas kompeni
Tak lagi nyata seperti bekerja rodi
Kita terjebak dalam lingkaran separatis
Dalam identitas penuh kepalsuan

Kita merdeka, tapi terjajah
Naskah proklamasi memang sudah berkumandang,
Tiada lagi penjajahan oleh Belanda dan Jepang
Kita terjajah oleh sesuatu yang lebih ganas dari mereka
Tak terasa, menyatu dalam hidup kita
Terasa tak sekejam mereka
Tapi sebenarnya lebih kejam dari mereka
Kemerdekaan masih sebatas kata
Belum bermakna dalam jiwa bangsa
Ironis…

Dulu jaya, sekarang tak berdaya
Dulu, hijau zamrud kental
Kini hijau meranggas dan merana
Dulu luas membentang,
Kini mulai tergerogoti
Dulu bermoral, sekarang tidak lagi
Dulu kuat dan tegar,
Kini lemah dan payah
Dulu lekat dan rekat,
Kini penuh sekat dan tak lagi rekat
Mengapa ?
Karena negeri ini mulai kehilangan rakyat yang peduli akan tumpah darahnya,
politisi yang cinta rakyatnya,
elite yang setia mendampingi masyarakatnya,
agamawan yang bijak pada umatnya,
intelektual yang loyal terhadap publiknya,
dan pemodal yang memberikan cinta kepada pasarnya.

Kita kaya, tapi miskin
Kita pandai, tapi bodoh
Harta melimpah tapi tak terolah
Masih banyak kaum papa yang menderita
Tapi banyak pula pejabat yang semakin sering tertawa
Keadilan kian hari kian melepuh, ibarat api dalam sekam
ketidakadilan terus menggerogoti jiwa kemerdekaan 1945
Inilah fakta kehidupan bangsa ini sepanjang merdeka

Budaya beragam, tapi ingin seragam,
SDM melimpah tapi payah,
Tertipu muslihat para penjahat,
Tergiur kenikmatan palsu,
Tak heran kalau kita masih terjajah,
Oleh penjajah yang kasat mata,
Diam-diam menusuk, mencabik, merusak dan menggondol harta kita,
Memecah belah kita…

Lalu apa hakikat kemerdekaan  kita?
Sudah 64 tahun kita merdeka
Tapi itu hanya kata yang belum bermakna,
kemerdekaan bukanlah sekadar upacara di tanah lapang,
melainkan memberikan kelapangan untuk rakyat dalam mengisi kemerdekaan ini tanpa gangguan
untuk itu,
ayo bangkit bangsa Indonesia!
Menjejaki perjuangan para pahlawan
Menyadari refleksi kemerdekaan yang sesungguhnya
Menyusun puzzle yang mulai berantakan ini
Menjadi kokoh seperti semula,
Menemukan arti kemerdekaan seutuhnya
Untuk negeri tercinta,
Indonesia…






















WHEN I AM IN SORROW

Ketika itu, kenangan SMA saat aku kecewa dan frustrasi dengan nilaiku sehabis TUC Fisika. Puisi ini adalah pelampiasannya.


WHEN I’M IN SORROW
Broken into pieces
Feel invisible
I was sorrowful
so unclearly
didn’t know what I feel
I was in total confusion
So mess
Lost all dreams
And can’t reach them..
I’m falling down!

Need a wave to swept my burden away
To start over from beginning
To start the new

Need a new spirit
I’m frustrated!!
Need a bright light
To undergrowth my way
Need guidance from You
Need Your affection
To reconcile my sorrow

God…
Love me
Care me
Give me power to hold out
I still have a hope
I need u, god..
I’m really in a mess

Give new happy thing…god…