Selasa, 26 April 2011

Burnout? Tryin' to Run away?

Yaah, sebenarnya aku melewatkan banyak hal untuk aku tulis. Sayang banget deh rasanya. Aku seolah-olah ga punya waktu untuk berdua aja sama diriku, kaya dulu. Entah untuk apa waktuku. Dibilang sibuk sebenarnya ga juga. Hey, aku masih semester dua. Tugas ya masih belum begitu banyak dan rumitlah... Tapi entahlah karena apa. Sebenarnya aku benci untuk selalu mengatakan entahlah. Terkesan aku tidak mau memikirkannya dan masa bodoh. Tapi, ya mungkin memang gitu kenyataannya. 
Balik lagi deh... Sebenarnya aku pingin banget selalu nulisin sesuatu yang aku alami tentang hidupku setiap saat, tapi selalu gabisa... Khususnya untuk akhir-akhir ini. Dan saat ini aku paksakan untuk bisa melakukan itu, menuliskan sesuatu.
Aku menyesal tidak bisa memanfaatkan waktu yang aku punya dengan baik. Rasanya semua udah aku setting agar efektif. Tapi kenyataannya terlalu banyak permisifnya mungkin diriku, jadi semuanya kacau. Ada suatu hal, yang mungkin adalah penyebab utamanya, tapi aku gabisa ceritain disini. Memang ini tempat sampahku, tapi ini ranah publik juga, aku masih punya privasi. Bodoh juga sebenarnya menjadikan media seperti ini sebagai tempat sampah, tempat curhat pribadi. Tapi yah, aku butuh pelampiasan untuk merasa lega, mungkin ada faktor psikologis, kepuasan, setelah aku menuliskan semuanya disini.
Rasanya aku terkekang sama diriku sendiri. Padahal sebenarnya aku bebas loh... Bebas... tapi diriku yang membuat diriku seperti terikat rantai yang kuat sehingga gabisa bebas.


Bulan ini adalah bulan yang berat rasanya buat aku.
Ternyata ramalan zodiak benar, salah satunya tentang keuangan. Banyak banget pengeluaran tak terduga yang aku keluarin bulan ini. Uuuh.. pusingnyaaa... 
Kebanyakan ikut kegiatan=kebanyakan pengeluaran.
Gabisa yang namanya ikutan kegiatan gratis. Yah, setimpal sih sama hal yang didapet, walaupun ga berupa materi. Ikhlasin aja deh, pasti ada manfaatnya (percaya aja deh gitu biar ga nyesel).
Terus, bulan ini juga bulan yang berat, rasanya makin sesak aja dada aku. Tugas menumpuk, kuis banyak, kegiatan pun banyak. Aaargh.. capek rasanya. Pusiing banget.
Penyakit "batuk-batuk" aku kambuh lagi, tulang belakang aku sering sakit lagi. Frustrasi deh rasanya. Sering ga tenang. Mana masalah dari aspek hidupku yang lain juga muncul, semakin kompleks, lengkap udah penderitaan bulan ini. April yang melelahkan.
Aku rasa aku ga punya kebebasan psikologis atas diriku sendiri (terinspirasi dari mata kuliah Etika).
Untuk memutuskan sesuatu atas diriku sendiri saja aku ribuut banget, ribet juga, pusing, mikir lama, banyak pertimbangan. Padahal sebenarnya bisa dengan mudah tinggal bilang ya atau ga.
Misalnya aja nih, dari 3 minggu yang lalu aku udah berencana buat bolos satu mata kuliah di hari Senin karena bagi aku kelas itu ga efektif, aku selalu ngantuk di kelas. Materinya pun bikin malas ah. Bisa dipelajari sendiri. (Itu sekadar alasan, ga boleh gitu sebenarnya berdasarkan nilai norma dan hati nurani..hehe).
Tapi sampai minggu ini pun aku cuma ngomong aja mau bolos, ga dilakuin. Baik sih di satu sisi tapi di sisi lain aku jadi memandang diriku terlalu menyebalkan., mau bolos aja ribet banget, banyak pertimbangan. Padahal aku sama sekali belum pernah bolos. Gapapalah sekali-kali gunain kesempatan bolos.
Uh, itu cuma satu contoh ya, contoh lain masih banyaak banget. Malas mau nulis malam ini. Besok pagi ada kuis faal pun. Harus belajar.
Ah padahal masih belum tuntas nih ceritanya, belum nyangkut juga sama judul dari tulisannya, Burnout or trying to run away, tapi udah jam seginim musti belajar dulu,
Yaudah deh besok aku lanjut lagi part 2 dari judul yang sama.
April dan Selasa yang melelahkan.
Eitss...
ntar dulu, buat reminder tulisan besok:
today, Selasa ini:
presentasi agama yang agak kacau,
bolos kelas inkemas dan tidur di kosan Yosi, padahal niatnya bolos buat belajar faal karena sorenya harusnya aku ikut latihan nari buat persiapan pentas tanggal 6 Mei (entah jadi atau ga, aku ga yakin, banyak faktor, aku merasa jadi kelompok minoritas dari mayoritas di kelompok itu).
Ga jadi latian nari, padahal udah bela-belain ujan-ujanan dari kosan Yosi ke kampus lagi. Semuanya ga ontime seih, bilanngnya latian jam 4.15 tp baru pada dateng jam 4.30. Apa tuh? ga disiplin, bikin males. Udah gitu udah niaaaat banget padahal. Bayangin donk, kecewa, kesel, sebel, BT, bad mood.
Udah gitu ketinggalan kereta deh jadinya gara-gara kegajelasan itu. Ga enaknya jadi orang yang kurang dianggap.
Naik angkot deeeh, nambah ongkos, nambah capek, macet, keujanan. Ah, males. I hate Tuesday...!
Selalu ga jelas mau ngapain. Emang enakan ga punya rules di otak jadi ga ngerasa kacau begitu ada satu hal yang ga berjalan sesuai rules seharusnya, let it flow gitu aja. Tapi sayang aku bukab tipe orang gitu.
\okay okay, cukup dulu deh...




Sabtu, 16 April 2011

Finally, I Feel It. Togetherness

Draft
Narration 2011

Kepanitiaan pertama tingkat universitas yang aku ikuti.
Awalnya cuma mengiyakan ajakan temanku, Lizara Patriona, buat ikutan di rapat bidang dari kepanitiaan itu. Awalnya aku ga ngerti sama sekali. Apa sih Narration? Kok aneh gitu, ini acara apa lagi. Belom pernah denger. Rapat bidang? Bidang apaan ya? Ikut ga yaa... Aduuuh, bingung juga. Tapi akhirnya aku mengiyakan aja.

Finally I found something precious here. Walaupun dalam proses itu bergejolak sana-sini. Macam-macam deh pokoknya. Tapi aku bersyukur bisa ikut ini.


Jumat, 15 April 2011

I Hate Me

Payaaaaah bgt. Aku benci diriku karena aku membenci diriku. Tau karena apa? Karena aku tidak menyukai semua hal tentang diriku. Nothing special. Aku capek harus memaksakan pemikiranku tentang diriku tentang kehebatanku, karena kenyataannya aku payah dalam segalanya. Apa buktinya kalau aku hebat atau aku berarti??
Saat ini aku benar-benar dalam kekrisisan identitas diri.
Aku tidak tahu apa yang aku mau, bahkan aku tidak tahu juga apa yang bisa membuatku merasa bahagia dan tentang. Poor me.....!!!!
Tuhan maaf kalau aku jadi munafik dan orang yang ingkar atas karuniaMu.
Aku hanya butuh bukti dan kenyataan tentang keeksisan diriku. Siapa aku bagi diriku?
Apakah aku ini memiliki sesuatu yang membanggakan dan bisa membuatku dianggap ada?
Aku rasa sebagian besar hidupku penuh dengan dunia khayalan.
Lama-lama aku capek dengan semuanya. Semua bukan kenyataan, hanya sekadar khayalan belaka.
Yang entah bisa kuwujudkan menjadi kenyataan atau tidak sama sekali.
Aku benar-benar membenci hidupku.
Aku seolah terjepit dalam dunia nyata dan dunia khayalan, aku merasa sakit. Unclearly world.
Aku lelah harus konflik dengan diriku, selalu.
Apa sebenarnya hakikat dari kehidupanku ini?
Aku lelah, benar-benar lelah.
Mungkin aku hampir putus asa.
Aku kehilangan diriku yang dulu. Aku merasa sekarang diriku semakin lama semakin tergerogoti dan akan menghilang, lenyap, benar-benar tidak ada lagi eksistensinya lagi.
Aku ini apa? Siapa? Mengapa ada diriku? Mengapa harus aku?
Aku? Aaargh, hampir gila kalau harus selalu begini.
Aku bahkan merasa telah terlalu merasa asyik dalam dunia khayalku, tapi begitu aku masuk ke dalam kenyataan aku merasa sangat ketakutan. Aku hidup dalam dunia yang benar-benar tidak jelas. Dimana sebenarnya hidupku???
Aku begitu ketakutan kehilangan khayalanku, tapi aku tak bisa terus-terusan dalam situasi seperti ini, aku lelah dan benar-benar merasa hampir gila.
Tuhan, bahkan semakin waktu aku merasa menjauh dariMu, semakin jauh dan jauh.
Mungkin aku masih melakukan semacam "ritual" untuk mendekatkan diri kepadaMu, tapi entah kenapa hatiku tak mampu merasakan kedekatan itu denganMu.
Aku semakin menderita berada jauh dariMu.
Aku menginginkanMu. Sadarkan aku dari tidurku, dari ketidaksadaranku, bangunkan aku...
Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku rasa aku pun tak punya seseorang semacam "ibu peri" yang selalu ada menasihatiku dan menjadi tempat sampah dari semua ganjalan hatiku. Aku lelah Tuhan jika aku yang harus selalu menjadi tempat sampah bagi orang lain tapi aku sendiri tidak bisa mencari tempat sampah bagi diriku. Mungkin ada banyak tempat sampah di luar sana yang mau menerima sampahku, hanya saja aku yang tidak bisa mencarinya.
Ah entahlah. Mungkin hidup dalam kesendirian dan kesunyian adalah yang aku inginkan. Tanpa orang lain. Karena aku tak aka lelah memikirkan mereka dan perasaan mereka. Aku memang egois dan tak pantas hidup dalam kumpulan , aku lebih pantas dan merasa nyaman ketika berada dalam kesendirian. Meskipun sebenarnyanya aku menderita juga. Tapi saat aku sendiri aku tidak akan merasa tersiksa karena berpikir tentang orang lain. Aku asyik dengan duniaku, yang penuh ketidakrasionalan. Aku benci jika harus terus memikirkan apa mau orang lain.
Aku ingin menyepi, pergi jauh menuju suatu kesunyian abadi, hanya ada aku dan diriku, dan burung-burung indah itu, awan putih, labngit biru, pepohonan, beningnya mata air, gemirick murninya, dan hanya bersama diriku.
Yah aku memang hampir gila.
Aku bisa merasa bebas ketika aku berkhayal. Aku tidak terikat dengan aturan-aturan yang membuatku ketakutan, tertekan, tidak ada yang membatasiku. Aku merasa rileks ketika aku berkhayal. Aku benci tekanan, aku benci aturan yang mengharuskanku menyelesaikan sesuatu dengan istilah "under pressure". Meski aku tahu tak mungkin ada keteraturan tanpa ada ancaman, hukuman, dan konsekuensi, serta aturan di dunia ini.
Tapi aku menginginkan kebaikan, kelembutan. Aaarg entahlah aku bicara apa, tanpa arah, kacau...!

Selasa, 12 April 2011

Tears

Burn out.
Depressed.
Sucks!
Alone.
No one understand me, hear my voice, look at my place, especially everyone who I love, my family, my best friend, my... stranger romantic friend (till this time i don't know wether i really have him or not), all, no one know everything that i feel now.
It's hard to save and keep all things alone.
Do u know? Hard, really hard.
I am depressed, stress, frustrated.
But no one come and says "are u okay? Something bad with u? What do u feel right now baby? Can i help u, tell me everything that u feel...
Everything will be okay, don't too worry, i am here be the shoulder of yours. I'll always there for u here, just call me and share everything with me."
No one said one of that words. No one...!
Just my tears, my loyal friend in everytime, every situation i feel.
Just me and my tears.

Kamis, 07 April 2011

Gombal deeeh... tapi Aku Suka.. :P

Tersenyumlah saat kamu mengingatku karena saat itu aku sangat merindukanmu.. Dan menangislah saat kamu merindukanku karena saat itu aku tak berada di sampingmu... tetapi pejamkanlah mata indahmu itu karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu. Karena aku udah berada di hatimu untuk selamanya, tak ada yang tersisa lagi di hatiku selain kenangan-kenangan indah yang bersamamu. Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta, mata indah yang dahulu adalah milikku kini semuanya terus jauh meninggalkanku. Hidupku terasa kosong tanpamu. Hati, cinta, dan rinduku adalah untukmu. Cintamu tak akan pernah membebaskanku, bagaimana aku akan mencari cinta lain karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu. Cinta ini akan terus ada hingga kematian menjemputku. Aku hanya bisa menangisi semua ini...

Cintaku hanya untukmu.
Saat sayap-sayapku patah karena cintamu, cintamu akan tetap tinggal bersamaku hingga akhir hayatku.
Dan setelah kematian hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi...
Betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan...
Yang telah menghidupkan sinar redupku namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya.
Aku tidak pernah menemukan cinta yang lain selain cintamu.
Kamu tak kan pernah terganti bagaikan pecahan hati menghilangkan kesedihan, kesunyian...
Aku hanya bisa pasrah untuk cinta kita semoga abadi...
I love you (*****)


created by B.S.P

Minggu, 03 April 2011

Thanks God

Tuhan, beribu terima kasih ingin aku ucapkan kepadaMu atas segala-galanya.
Atas segala hal yang telah Kau karuniakan kepadaku.
Atas semua hal yang membahagiakan, menyedihkan, mengecewakan, mengharukan, dan semuanya. Semua hal dariMu sangat berguna dan indah pada akhirnya untukku.
Seperti hal yang satu ini, yang akhrinya aku rasakan.
Love.
Unpredictable. Kau menganugerahiku perasaan ini.
Entah apa aku benar-benar merasakan yang namanya cinta atau sekadar sensasi beda sesaat.
Yang jelas Tuhan, di usiaku yang ke tujuh belas menuju delapan belas akhirnya aku harus tetap terjatuh pada sesuatu yang paling aku benci sebelumnya, paling aku takuti untuk aku rasakan, dan paling ingin aku tolak ketika dia menghampiriku.
Yah, aku selalu tidak bisa menuliskan secara sistematis dan mengalir mengenai apa yang sebenarnya aku pikirkan untuk aku tuliskan...
Tuhan, pokonya di usiaku yang tujuh belas menuju delapan belas ini aku sangat berterima kasih, khususnya karena anugerah itu.
Meski Kau memberiku kerumitan, kepedihan, ketidakmasukakalan, ketakterdugaan untuk mengenal dia tapi pada akhirnya aku rasa aku benar-benar jatuh untuknya.
Aku berharap dia menjadi teka-teki misteri cinta dalam kehidupanku yang final.
Aku merasa mendapat kesan yang sangat-sangat berbeda untuk mengenal dirinya itu.
Walapun hingga kini dia masih berwujud sosok abstrak dan entah aku tidak tahu wujudnya seperti apa tapi aku merasa yakin tentang perasaanku kepadanya.
Meskipun aku merasa semua ini memang rumit dan agak tidak masuk akal, tapi aku rasa dia tulus kepadaku, Tuhan...
Aku juga telah mendengar banyak tentangnya dari orang lain yang dekat dengannya. Yah meskipun aku juga tidak mengenalnya.
Tuhan, apa dia jodohku?
Ah, rasanya terlalu dini membicarakan jodoh di usiaku.
Apalagi jodoh dari awal bukanlah prioritasku dan bahkan aku ingin menyingkirkannya jauh-jauh dari kehidupanku.
Tapi semenjak kehadirannya, rasany otakku tercuci oleh semua kata-kata dan tentangnya.
Aku rasa mindsetku sekarang berubah, hampir 180 derajat mengenai kata yang satu itu.
Oh Tuhan. Misteri apa ini...
Aku sangat ingin mengetahui bagaimana akhirnya aku dengannya nanti.
Jujur aku merasa sangat takut untuk kehilangannya. Aku telah membebaskan perasaanku untuk mengalirkan sensasi dan ketulusan itu baginya.
Mungkin bagi orang lain yang masih waras dan rasional karena belum pernah tersentuh sensasi kerumitas perasaan ini aku sangatlah bodoh dan agak ga waras, ga rasional...
Tapi ternyata setelah mendapat sentuhan mengenai cinta memang dengan sendirinya pikiran menjadi irasional dan semua terasa buta. Tapi aku masih memiliki kesadaran dan aku masih rasional.
Ah entahlah aku bicara apa...
Tuhan, semoga dia memang orang yang tepat untuk selamanya.
Atau jika Kau menghendaki hanya untuk sementara maka kuatkan aku dan berikan gantinya yang lebih baik.
Oh Tuhan, baru kali ini aku curhat tentang cinta, tentang sesuatu yang awalnya sangat ingin aku benci dan ingin aku singkirkan jauuh jauuh dari aspek kehidupanku.
Tapi ternyata aku seperti terkena karma.
Sekalinya aku mengenalnya aku langsung terperangkap dan jatuh cukup dalam ke dalamnya.
Bahkan ah, bahkan aku sangat menginginkannya sekarang.
Ouh.. Tuhan apa yang Kau rencanakan dari semua ini sebenarnya??
Duniaku seolah berputar lebih cepat dengan putaran yang s edikit menyimpang dari porosnya.
Aku merasa sedikit menyimpang.
Tuhaaan.. aku mohon beri aku petunjukMu selalu.
Aku hanya tidak ingin menjauh dariMu dan aku hanya tidak ingin menjadi seseorang yang lemah karena semua sekarang berubah dalam hidupku, terutama aspek yang satu itu.
Aku masih merasa takut Tuhan.. tolong aku...Berikan aku kejelasan mengenai ini, berikan aku petunjuk mengenai apa yang harus aku lakukan dan aku rasakan, jauhkan aku dari segala kemunafikan...



Jumat, 01 April 2011

All About This Complicated Things

Love. (dalam konteks romantic relationship)
Sesuatu yang sangat rumit. Tak pernah bisa benar-benar dipahami dan dikendalikan.
Sebelumnya, tulisan ini sekadar pendapat common sense dariku sendiri, curahan kegalauan hati.
Yap. Really complicated kalo udah mikirin tentang cinta.
Cinta itu seringkali membuat seseorang menjadi gila.
Cinta itu tak menentu.
Terkadang membuat perasaan tiba-tiba menjadi berbunga-bunga, menggebu, penuh gairah.
Bahkan seperti orang gila, senyum-senyum sendiri tanpa sebab yang jelas.
Membuat angan seolah terbang ke angkasa, membumbung, aah, sensasi yang indah untuk dirasakan.
Memberi kekuatan untuk berjuang dan memberi semangat untuk hidup.
Tak terelakkan pokoknya, cinta membuat hidup terasa lebih hidup dan indah. Penuh angan yang selalu menjadi harapan setiap orang untuk mendapatkan kebahagiaan.
Tapi tak terelakkan juga cinta seringkali membuat perasaan terasa teriris pisau yang sehabis diasah, tajam, sakit, masuk terlalu dalam, menikam kebahagiaan yang terasa.
Meremukkan permata angan yang indah.
Menusuk, melukai. Sakit. Air mata, tangisan, kepedihan. Semua itupun datang tiba-tiba. Unpredictable. Tanpa sebab yang jelas.

Sampai saat ini aku masih ragu tentang keinginanku terkait hal itu.
Satu sisi aku ingin menolak terus menerus kodrat alamiah yang memang telah terberi dari Sang Kuasa untuk setiap insan ciptaanNya itu. Rasanya aku ingin menghindar selamanya dari sesuatu yang satu ini. Menjauhinya dan ingin untuk tak pernah samasekali untuk merasakannya dan mengalami sensasi-sensasinya.
Aku terlalu takut. Aku tak ingin merasakan nggak enaknya dari hal itu.
Meskipun penuh sensasi tapi itu menakutkan. Ngeri.
Tapi disisi lain aku sadar aku tidak bisa terus menerus menjadi orang munafik yang selalu bilang aku tak butuh cinta dan bisa hidup tanpanya. Aku tak membutuhkannya dan aku membencinya.
Karena sebenarnya bagaimanapun itu adalah sesuatu yang telah terberi dari alam, dari Tuhan.
Sesuatu yang tak akan mungkin pernah bisa dihindari meski bagaimanapun aku telah menghindarinya, menolaknya.
Dan aku sangat mengharapkannya mengisis ruang hidupku.
Meski aku takut tapi sebenarnya aku menginginkannya...