I really fall in this uncertain feeling.
What's happen?
Oouuuh... Benar2 tak menentu.
Passion atau memang ketulusan yg jujur?
I don't know.
Sabtu, 19 Maret 2011
My Approach-Avoidance Conflict
Aku menyukainya. Tapi tidak seharusnya aku melakukannya karena itu seharusnya tidak aku lakukan.
Meski bukanlah kenyataan tapi itu mengarah pada kenyataan. Tapi aku menyukainya. Hanya saja seharusnya aku mampu menolaknya. Belum waktunya bagiku.
Hal itu sangat menyenangkan dan berkesan. Tapi belum tepat waktunya untuk sekarang. Belum saatnya, seharusnya aku mampu menolaknya.
Tapi egoku tak bisa menahan sesuatu itu. Aku menginginkannya. Dan entah kenapa Dia seolah tahu tentang ini dan membuatku lebih bisa membuat hal ini lebih menjadi konsep yang jelas yang tadinya hanya abstrak omong kosongku dengan diriku sendiri, sekarang aku telah mendapatkannya dari orang lain. Bahkan bukan aku yang memintanya. Dia yang memberikannya. Terima kasih Allah, akhirnya ini menjadi kenyataan meskipun bukan pula kenyataan secara riil, kenyataan yang masih sangat semu, aku tahu belum saatnya bagiku, tapi aku tak mampu lagi menahan ego dalam diriku...
Ya Allah ampuni aku, hanya menuruti egoku belaka. Ampuni aku, berikan aku kekuatan untuk bertahan pada sesuatu yang seharusnya aku pertahankan untuk tidak aku lakukan.
Aku benar-benar mengalami konflik dengan diriku. Satu sisi aku sangat menyukai dan menikmati hal itu tapi di sisi lain sebenarnya aku takut, takut dan tidak seharusnya aku lakukan.
Ah.. sudahlah lagipula sudah terlanjur... Semoga bisa jadi pelajaran untuk lain kali. Amin..
Jumat, 18 Maret 2011
Uncertain Things
Who are you?
Who am I?
For you and for me?
Me.
You.
You and me??
Is it real???
Oh God...this is still uncertain things especially for me.
Am I....?
Is he...?
Ooouh... Unbelievable. Really unbelievable.
I am his special partner.
He is my special one.
I don't know.
Hanya waktu yg bisa menjawab.
Who am I?
For you and for me?
Me.
You.
You and me??
Is it real???
Oh God...this is still uncertain things especially for me.
Am I....?
Is he...?
Ooouh... Unbelievable. Really unbelievable.
I am his special partner.
He is my special one.
I don't know.
Hanya waktu yg bisa menjawab.
Antara Kenyataan dan Khayalan
Aku benar2 merasa hidup dalam dunia yang tidak jelas untuk saat ini. Sebenarnya aku merasakan ini telah sejak beberapa bulan lalu, klimaksnya mulai Januari dan sekarang telah mulai mereda atau entah membentuk klimkas baru. Aku mengalami kisah yang benar2 tidak aku duga sebelumnya. Mirip mimpi, tp ini kenyataan.
Aku merasa semakin tak bisa mengendalikan diriku lagi. Tuhan... Kapan aku akan tahu akhir dari semua kisahku kali ini? Aku tak bisa memprediksi sama sekali, berbeda dg kisah2ku sebelumnya yg seolah terjadi karena akulah yang membuat ceritanya. Tapi saat ini meski aku yang menjadi salah satu tokoh utama dlm kisahku dan aku memang turut andil dalam alur cerita ini. Oh, Tuhan... tapi aku merasa konflik dengan diriku. Dalam kisah ini aku masih memiliki kesadaran atas diriku tapi aku merasa bukan menjadi diriku lagi. Dengan mudahnya aku melakukan suatu hal yang bukan diriku bgt. Aku bisa dengan mudah bilang sesuatu yg awalnya dan dalam hidupku sebelumnya belum pernah aku ucapkan untuk seseorang dan aku selalu menganggap itu sebagai hal yaang "iiiiih".
Tapi dlm kisahku aku seolah mengalami katarsis, yah mungkin memang mengalaminya, aku memberontak dan tidak memerdulikan aturan yg aku anut lagi. Tp aku masih tau batasan2. Aku normal dlm peranku ini, tapi tidak dlm kenyataan. Aku hanya merasa bersalah atas semua yang aku lakukan dlm kisahku ini, Tuhan.
Bahkan aku tak tahu apa aku hidup dlm mimpi atau memang ini kenyataan? Aku bimbang... Sadarkan aku segera, bangunkan aku.
Berikan kejelasan atas semua ini.
Pertemuan.
Itu mungkin jawaban untuk mengetahui arah yg lebih jelas dari semua ini. Atau mungkin juga bukan.
Perpisahan abadi bisa juga sebagai jawaban atas akhir kisahku ini. Tapi aku lebih mengaharap pertemuan sebagai jawabannya.
Tuhan... Kau yg Terbaik, aku mohon yg terbaik atas kehidupanku...
Aku merasa semakin tak bisa mengendalikan diriku lagi. Tuhan... Kapan aku akan tahu akhir dari semua kisahku kali ini? Aku tak bisa memprediksi sama sekali, berbeda dg kisah2ku sebelumnya yg seolah terjadi karena akulah yang membuat ceritanya. Tapi saat ini meski aku yang menjadi salah satu tokoh utama dlm kisahku dan aku memang turut andil dalam alur cerita ini. Oh, Tuhan... tapi aku merasa konflik dengan diriku. Dalam kisah ini aku masih memiliki kesadaran atas diriku tapi aku merasa bukan menjadi diriku lagi. Dengan mudahnya aku melakukan suatu hal yang bukan diriku bgt. Aku bisa dengan mudah bilang sesuatu yg awalnya dan dalam hidupku sebelumnya belum pernah aku ucapkan untuk seseorang dan aku selalu menganggap itu sebagai hal yaang "iiiiih".
Tapi dlm kisahku aku seolah mengalami katarsis, yah mungkin memang mengalaminya, aku memberontak dan tidak memerdulikan aturan yg aku anut lagi. Tp aku masih tau batasan2. Aku normal dlm peranku ini, tapi tidak dlm kenyataan. Aku hanya merasa bersalah atas semua yang aku lakukan dlm kisahku ini, Tuhan.
Bahkan aku tak tahu apa aku hidup dlm mimpi atau memang ini kenyataan? Aku bimbang... Sadarkan aku segera, bangunkan aku.
Berikan kejelasan atas semua ini.
Pertemuan.
Itu mungkin jawaban untuk mengetahui arah yg lebih jelas dari semua ini. Atau mungkin juga bukan.
Perpisahan abadi bisa juga sebagai jawaban atas akhir kisahku ini. Tapi aku lebih mengaharap pertemuan sebagai jawabannya.
Tuhan... Kau yg Terbaik, aku mohon yg terbaik atas kehidupanku...
Senin, 14 Maret 2011
Insight from Small Things in My life (my opinion)
Untung juga dikritik, jadi ngerti kekurangan dan dapet masukan. Cuma untuk minta dikritik rasanya seperti mau perang, haha, lebay... Tapi ketika proses sehabis dikritik itu rasanya legaa dan sangat berterima kasih. Cuma... Susahnya untuk mengemukakan hal yang ingin orang lain untuk mengeritiknya, berat... Takut, takut banget... Hmm... Harus bisa membiasakan berani, yeah... Brave... I have to be brave to get something precious. Brave untuk merasa perih sesaat untuk bisa dapet enaknya pijatan dari perih itu... Ah, bahasanya kacau. Bodo deh, yg penting lega. ^^
I Hate this but Love it (dua sisi hal)
Jadi orang yang "friend oriented" emang ga ada enaknya.
Langsung aja deh. Aku seneng banget rasanye beruntung bisa masuk ke kelas metpen A. Pertama, dosennya asyik, penyabar, udah profesional lagi. Aku ga ngerasa ada tekanan dari pihak dosen. Beliau-beliau itu benar2 berusaha membantu kami, eh, aku dink, karena ini subjektif, gatau dg tmn2 sekelasku yg lain.
Mungkin karena mereka udah termasuk tua usianya, jadi pengalman mengajar juga udah banyak, selain itu karena mungkin juga mereka psikolog. Hehe, agak ga nyambung. Yang jelas aku suka dapet dosen metpen di kelasku. Walaupun aku ga begitu cocok dg sistem pengajarannya, karena menurutku itu acak, ga sistematis, tp emg cakupan bahan yg disampaikan jadi luas dan lebih applied. Sedangkan aku adalah orang yang tipe belajarnya otak kiri yang harus sesuai dg urutan buku atau slide dan harus urut deh pokoknya. Definisi harus aku pegang, baru bisa ke contoh, bukan dari contoh lalu ke definisi. Ada masalah dg hal ini, kalau kuis aku jadi ngrasa ga bisa maksimal belajarnya karena itu, cara ngajarnya acak, ak jadi ikut2 acak deh belajarnya dan alhasil ga ada yg nyantel di otak. otakku ga bisa membentuk suatu alur dari apa yg aku pelajari. Rasanya berantakaaaan banget. Berserak2 dimana2. Ga rapi. Susah nyarinya. Aaargh, gondok sendiri deh pokoknya.
Mm terus gini, aku ngerasa senengnya lagi dapet kelas metpenstat A karena faktor teman sekelasnya. aku ngerasa nyaman dg tmn2 sekelasku. atmosfernya mendukungku buat bisa ngembangin diri sebenarnya, maksudku di kelas ini aku jadi berani buat bertanya atau berpendapat atau ngomong deh pokoknya. Sedangkan di kelas lain aku ngerasa aku mengkerut, pengecut bgt, buat ngomong aja rasanya tertekan banget. Yaah, memang kadar PD diriku itu dikit bgt. Selain itu lagi karena jumlah cowok dlm kelas metpenku ini dikit banget, cuma ada 7 orang dari 40an mahasiswa. Dan senengnya lagi, mereka itu tipe cowok yang kalem, bukan bad boys lah gitu maksudnya. Hehe... Aku jadi ngerasa aman dan ga terancam. Lhoh? Hehe..Ok krn udah ga muat,bbyee..hehe
Langsung aja deh. Aku seneng banget rasanye beruntung bisa masuk ke kelas metpen A. Pertama, dosennya asyik, penyabar, udah profesional lagi. Aku ga ngerasa ada tekanan dari pihak dosen. Beliau-beliau itu benar2 berusaha membantu kami, eh, aku dink, karena ini subjektif, gatau dg tmn2 sekelasku yg lain.
Mungkin karena mereka udah termasuk tua usianya, jadi pengalman mengajar juga udah banyak, selain itu karena mungkin juga mereka psikolog. Hehe, agak ga nyambung. Yang jelas aku suka dapet dosen metpen di kelasku. Walaupun aku ga begitu cocok dg sistem pengajarannya, karena menurutku itu acak, ga sistematis, tp emg cakupan bahan yg disampaikan jadi luas dan lebih applied. Sedangkan aku adalah orang yang tipe belajarnya otak kiri yang harus sesuai dg urutan buku atau slide dan harus urut deh pokoknya. Definisi harus aku pegang, baru bisa ke contoh, bukan dari contoh lalu ke definisi. Ada masalah dg hal ini, kalau kuis aku jadi ngrasa ga bisa maksimal belajarnya karena itu, cara ngajarnya acak, ak jadi ikut2 acak deh belajarnya dan alhasil ga ada yg nyantel di otak. otakku ga bisa membentuk suatu alur dari apa yg aku pelajari. Rasanya berantakaaaan banget. Berserak2 dimana2. Ga rapi. Susah nyarinya. Aaargh, gondok sendiri deh pokoknya.
Mm terus gini, aku ngerasa senengnya lagi dapet kelas metpenstat A karena faktor teman sekelasnya. aku ngerasa nyaman dg tmn2 sekelasku. atmosfernya mendukungku buat bisa ngembangin diri sebenarnya, maksudku di kelas ini aku jadi berani buat bertanya atau berpendapat atau ngomong deh pokoknya. Sedangkan di kelas lain aku ngerasa aku mengkerut, pengecut bgt, buat ngomong aja rasanya tertekan banget. Yaah, memang kadar PD diriku itu dikit bgt. Selain itu lagi karena jumlah cowok dlm kelas metpenku ini dikit banget, cuma ada 7 orang dari 40an mahasiswa. Dan senengnya lagi, mereka itu tipe cowok yang kalem, bukan bad boys lah gitu maksudnya. Hehe... Aku jadi ngerasa aman dan ga terancam. Lhoh? Hehe..Ok krn udah ga muat,bbyee..hehe
Minggu, 13 Maret 2011
Egoisme yang Menyebalkan
Sebenarnya sudah lama banget aku pingin ngeluarin uneg-uneg tentang ini. Dari dulu, dari awal aku jadi penumpang kereta, khususnya eko AC, soalnnya yang lumayan sering aku naikin...
Semenjak ada gerbong khusus wanita, aku lebih seneng sih. Soalnya aman, karena hanya satu gender yang ada di gerbong itu, kecuali yang terkecuali deh... Hehe. Pernah ada soalnya. Aku ngrasa lebih aman karena sesama wanita pasti lebih pengertian, kesan awalku sih gitu. Eh tapi ternyata ga juga deh. Beberapa kali aku ngalamin kalau wanita itu lebih emosional, khususnya penumpang kereta nih ya, soalnya aku lagi ngomongin penumpang kereta. Yah walapun eko AC tetep aja yang namanya kereta pasti penuh, sempit, dan desak-desakkan, apalagi waktu jam jam sibuk orang pada berangkat dan oulang kerja... Harus sabar euy jadi penumpang KRL itu.haha.. Jadi gini, pernah pas pulang kuliah aku naik KRL AC eko tujuan Bogor yg jam setengah tujuan deh, wah pas itu kan waktunya orang prang pulang kerja, jadi penuhnyaaa.. Lhah, semua orang pada egois sih, yang mau naik ga mau ngasih jalan buat yang mau turun, udah gitu desek-desekkan pas naik, dorng sana dorong sini, ternyata ibu-ibu emang lebih wah deh soal beginian, lebih panikan, lebih egois, lebih emosional juga. Gara-gara kedorong yang dari belakang, aku jadi ngedorong yang di depan aku, eeh aku kena marah deh, Abis itu juga pernah aku gara-gara mepet sama punggung ibu-ibu terus keretanya ngerem mendadak dan ibunya mau jatoh aku juga yang kena marah dibilang "enak aja pake nyender segala". Huh.. anjrit banget deh., Eh bu, siapa juga yang nyender, mana bisa di situasi kaya gitu enak-enakan nyender di punggung ibu, idih dasar ibu-ibuu.. uuuh. sebel .>.<
Terus ini nih yang paling aku benci, ketika banyak orang, penuh, sesak, pada berdiri dan ada ibu-ibu yang duduk di deket pintu ga mau berdiri. emang sih posisi PW, tapi ya mbok liat dunk situasi... Yah, emang sih mungkin ibu-ibu itu lemes atau capek.. Tapi kasian jjuga yang berdiri jadi serba salah,. kedorong dari belakang mau nimpa yang duduk aja bawaannya tapi karena kasian ya berusaha menahan diri biar ga ngejatohin yang duduk. Uh, tapi aku rasanya pingin banget nimpain yang duduk itu biar kapok. Abisnyaa udah tau kereta lagi penuh, asik-asikan duduk, maenan handphone lagi, ada juga yang saling ngobrol. Huuuh, gedheg sendiri deh...
dan sebenernya masih banyak tingkah laku orang di kereta yang mencerminkan keegoisan masyarakat metropolitan, ya metropolitan karena kebanyakan penumpang kereta adalah orang-orang kota kan... Ga cuma di KRL AC eko aja, di ekonomi pun gitu. Tapi aku rasa, rasa kekeluargaan masih lebih terasa di KRL ekonomi, entah apa. Aku tau sih alasannya. Males ngejelasin aja. Kapan-kapan deh kalo ga males, aku tulkis disini...
Hwahm sebenernya aku lagi pingin buang samoah di hatiku nih, bukan pingin nulis ini., Ah tapi yaudahlah. yang penitng nulis. haha...
Astagaa... tapi aku pingin banget nulis sampahku itu, tapi ga sekarang deh... hmmmm... bbyeee my trash.
:P
Semenjak ada gerbong khusus wanita, aku lebih seneng sih. Soalnya aman, karena hanya satu gender yang ada di gerbong itu, kecuali yang terkecuali deh... Hehe. Pernah ada soalnya. Aku ngrasa lebih aman karena sesama wanita pasti lebih pengertian, kesan awalku sih gitu. Eh tapi ternyata ga juga deh. Beberapa kali aku ngalamin kalau wanita itu lebih emosional, khususnya penumpang kereta nih ya, soalnya aku lagi ngomongin penumpang kereta. Yah walapun eko AC tetep aja yang namanya kereta pasti penuh, sempit, dan desak-desakkan, apalagi waktu jam jam sibuk orang pada berangkat dan oulang kerja... Harus sabar euy jadi penumpang KRL itu.haha.. Jadi gini, pernah pas pulang kuliah aku naik KRL AC eko tujuan Bogor yg jam setengah tujuan deh, wah pas itu kan waktunya orang prang pulang kerja, jadi penuhnyaaa.. Lhah, semua orang pada egois sih, yang mau naik ga mau ngasih jalan buat yang mau turun, udah gitu desek-desekkan pas naik, dorng sana dorong sini, ternyata ibu-ibu emang lebih wah deh soal beginian, lebih panikan, lebih egois, lebih emosional juga. Gara-gara kedorong yang dari belakang, aku jadi ngedorong yang di depan aku, eeh aku kena marah deh, Abis itu juga pernah aku gara-gara mepet sama punggung ibu-ibu terus keretanya ngerem mendadak dan ibunya mau jatoh aku juga yang kena marah dibilang "enak aja pake nyender segala". Huh.. anjrit banget deh., Eh bu, siapa juga yang nyender, mana bisa di situasi kaya gitu enak-enakan nyender di punggung ibu, idih dasar ibu-ibuu.. uuuh. sebel .>.<
Terus ini nih yang paling aku benci, ketika banyak orang, penuh, sesak, pada berdiri dan ada ibu-ibu yang duduk di deket pintu ga mau berdiri. emang sih posisi PW, tapi ya mbok liat dunk situasi... Yah, emang sih mungkin ibu-ibu itu lemes atau capek.. Tapi kasian jjuga yang berdiri jadi serba salah,. kedorong dari belakang mau nimpa yang duduk aja bawaannya tapi karena kasian ya berusaha menahan diri biar ga ngejatohin yang duduk. Uh, tapi aku rasanya pingin banget nimpain yang duduk itu biar kapok. Abisnyaa udah tau kereta lagi penuh, asik-asikan duduk, maenan handphone lagi, ada juga yang saling ngobrol. Huuuh, gedheg sendiri deh...
dan sebenernya masih banyak tingkah laku orang di kereta yang mencerminkan keegoisan masyarakat metropolitan, ya metropolitan karena kebanyakan penumpang kereta adalah orang-orang kota kan... Ga cuma di KRL AC eko aja, di ekonomi pun gitu. Tapi aku rasa, rasa kekeluargaan masih lebih terasa di KRL ekonomi, entah apa. Aku tau sih alasannya. Males ngejelasin aja. Kapan-kapan deh kalo ga males, aku tulkis disini...
Hwahm sebenernya aku lagi pingin buang samoah di hatiku nih, bukan pingin nulis ini., Ah tapi yaudahlah. yang penitng nulis. haha...
Astagaa... tapi aku pingin banget nulis sampahku itu, tapi ga sekarang deh... hmmmm... bbyeee my trash.
:P
Langganan:
Postingan (Atom)